Langsung ke isi
Lyra
Bahasa Indonesia · Kelas 10 · Fase E · 7 menit baca UTBKUTBK

Tanda Baca: Titik, Koma, Titik Dua, Tanda Hubung

Setelah ini kamu bisa menerapkan empat tanda baca utama (titik, koma, titik dua, tanda hubung) sesuai fungsinya, dan mendeteksi kesalahan tanda baca yang mengubah makna kalimat.

Coba bandingkan dua tulisan: “Mari kita makan, Adik” dan “Mari kita makan Adik”. Tanpa koma, kalimat kedua berubah mengerikan. Itulah kekuatan tanda baca — simbol kecil yang menentukan apakah gagasanmu tersampaikan atau berubah jadi bencana. Bagaimana cara menguasainya? Coba lihat sendiri di bawah.

Coba perbaiki penempatan koma yang salah pada kalimat berikut.

Empat tanda baca inti

Bahasa Indonesia memakai banyak tanda baca, tetapi empat yang paling sering keliru: titik, koma, titik dua, dan tanda hubung. Masing-masing punya fungsi spesifik yang bila dilanggar, makna kalimat bisa berubah.

Tanda baca adalah simbol yang mengatur ritme dan hubungan antarbagian kalimat: titik (akhir pernyataan), koma (jeda singkat), titik dua (pengantar), tanda hubung (sambung bagian kata).

Memahami fungsi tiap tanda baca lebih penting daripada menghafal aturan. Setiap tanda punya “pekerjaan” tertentu dalam kalimat.

Koma: pemisah klausa dan daftar

Koma berfungsi memisahkan anak kalimat dari induk, item dalam daftar, dan unsure yang setara. Banyak penulis keliru memakai koma untuk memisahkan subjek dari predikat — itu dilarang.

Fungsi komaContoh
Anak kalimat di awalWalaupun capek, ia tetap bekerja
DaftarIbu membeli sayur, buah, dan daging
Langsung (sapaan)“Adik, kemarilah!”
Pengisi sapaanYa, saya mengerti

Coba perbaiki penggunaan titik dua pada kalimat pengantar daftar.

Tanda hubung vs tanda sambung

Tanda hubung (-) menyambung suku kata atau bagian kata (anak-anak, se-Nusantara). Tanda sambung atau dash (—) menandai jeda atau perincian yang lebih panjang. Banyak yang keliru memakai tanda hubung untuk kedua fungsi.

Titik akhir: pernyataan atau singkatan?

Titik menutup kalimat pernyataan, tetapi juga dipakai pada singkatan nama (dr., S.H.) dan gelar. Yang sering keliru: titik pada singkatan satuan ukur (kg, m) yang seharusnya tidak memakai titik.

Bayangkan tanda baca seperti rambu jalan. Titik = lampu merah (berhenti penuh). Koma = lampu kuning (jeda singkat). Titik dua = tanda “di sini ada daftar”. Tanda hubung = pengait antarbagian. Salah baca rambu = salah paham makna.

Di UTBK Pemahaman Bacaan & Menulis, soal tanda baca sering menyodorkan kalimat dengan tanda yang salah tempat. Kerangka TKA (Peraturan Ka. BSKAP 045/H/AN/2025) secara eksplisit menyebut “tanda baca pendukung ungkapan” sebagai karakteristik teks TKA. Tipuan paling sering: koma yang memisah subjek-predikat, atau titik dua yang dipakai tanpa daftar. Cara bertahan: cek fungsi tiap tanda, bukan sekadar posisinya.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Perbaiki tanda baca kalimat berikut: “Ibu berkata, adik kemarilah, bawakan buku itu.”

“Ibu berkata” diikuti kalimat langsung → seharusnya titik dua. “adik kemarilah” adalah sapaan langsung → dipisah koma. “bawakan buku itu” adalah perintah lanjutan → dipisah koma.

Hasil: “Ibu berkata: ‘Adik, kemarilah, bawakan buku itu.’” Titik dua mengantar kalimat langsung, koma memisah sapaan, dan tanda petik membungkus kalimat langsung.

Kalimat langsung diawali kapital (“Adik”) dan diakhiri titik di dalam tanda petik. Struktur kini baku sesuai PUEBI.

Jebakan: memakai koma untuk memisahkan subjek dari predikat (mis. “Adik, sedang makan”). Yang benar: koma tidak boleh memisahkan subjek dari predikat; keduanya adalah satu kesatuan.

Jebakan: memberi titik pada singkatan satuan ukur (kg., cm., m.). Yang benar: singkatan satuan ukur tidak memakai titik; titik hanya untuk singkatan nama/gelar.

  • Titik menutup kalimat pernyataan; singkatan satuan ukur (kg, m) tanpa titik.
  • Koma memisahkan anak kalimat, item daftar, dan unsur setara; tidak boleh memisah subjek-predikat.
  • Titik dua mengantar daftar formal atau penjelasan setelah “adalah/yakni/yaitu”.
  • Tanda hubung menyambung bagian kata (anak-anak); tanda sambung panjang untuk jeda antarklausa.
  • Salah tanda baca bisa mengubah makna kalimat secara drastis.