Ejaan Dasar: Huruf, Kata, dan Angka
Setelah ini kamu bisa menerapkan kaidah ejaan dasar: pemakaian huruf kapital, pembedaan “di” preposisi dari “di” adverbia, penulisan angka dan bilangan, serta penulisan kata ulang.
Pernah ragu apakah harus menulis “di rumah” atau “dirumah”? Atau bingung kapan “presiden” ditulis kapital dan kapan tidak? Ejaan tampak sepele, tetapi kesalahan kecil merusak kesan profesional tulisanmu. Untungnya, kaidah ejaan bisa dipelajari lewat pola, bukan hafalan buta. Coba lihat sendiri di bawah.
“di” dan “ke”: depan atau adverbia
Salah satu kesalahan ejaan paling sering adalah penulisan “di” dan “ke”. Aturannya sederhana: sebagai preposisi yang diikuti kata benda (di rumah, ke pasar), keduanya ditulis terpisah. Sebagai awalan verba (diambil, kesana), keduanya diserangkai.
Preposisi “di/ke” ditulis terpisah dari kata benda yang mengikutinya (di sekolah, ke kantor). Awalan “di-/ke-” diserangkai pada verba (dimakan, kemarau).
Coba hafalkan pola ini: bila “di/ke” menunjukkan tempat atau arah, ditulis terpisah. Bila membentuk verba pasif (di-) atau kata sifat (ke-an), diserangkai.
Huruf kapital: gelar, jabatan, hari
Huruf kapital dipakai pada awal kalimat, nama diri, gelar, jabatan di depan nama, hari, bulan, dan hari raya. Banyak penulis keliru menulis kapital pada jabatan tanpa nama atau pada kata umum.
| Wajib kapital | Tidak wajib kapital |
|---|---|
| Presiden Joko Widodo | presiden negara itu |
| Prof. Sutomo | seorang profesor |
| Hari Senin | hari yang cerah |
| Bulan Agustus | bulan penuh berkah |
Coba perbaiki penulisan kapital yang salah ini.
Angka dan bilangan
Angka dipakai untuk menunjukkan nilai nominal, tanggal, dan ukuran teknis. Bilangan ditulis dengan huruf untuk angka nol sampai sembilan pada umumnya, kecuali dalam konteks ilmiah atau keuangan. Coba perbaiki.
Kata ulang: tanda hubung atau utuh
Kata ulang penuh ditulis dengan tanda hubung (buku-buku, anak-anak). Kata ulang yang sudah dianggap satu kata (kupu-kupu, undang-undang, biri-biri) juga tetap memakai tanda hubung. Coba perbaiki.
Bayangkan ejaan seperti rambu lalu lintas. “di” terpisah = rambu tempat (di mana, ke mana). “di” serangkai = rambu perbuatan pasif (dilakukan, diambil). Huruf kapital = rambu nama diri. Bila kamu tahu rambunya, kamu tidak akan tersesat.
Di UTBK Pemahaman Bacaan & Menulis, soal ejaan hampir selalu muncul. Cakupan PBM resmi mencakup ejaan sebagai komponen. Kerangka TKA (Peraturan Ka. BSKAP 045/H/AN/2025) juga menyebut “tanda baca pendukung ungkapan” sebagai karakteristik teks. Tipuan paling sering: “di/ke” yang salah serangkai, kapital pada jabatan tanpa nama, dan angka untuk jumlah kecil dalam teks naratif. Cara bertahan: hafalkan empat pola di atas.
Coba dulu di kertas, baru buka.
Soal. Perbaiki ejaan kalimat berikut: “presiden joko widodo berkunjung kerumah ibu itu pada hari senin.”
Awal kalimat: “presiden” → “Presiden”. Nama diri: “joko widodo” → “Joko Widodo”. Nama hari: “senin” → “Senin”. Julukan resmi: “ibu” bisa kapital bila diikuti nama (Ibu Kota).
“kerumah” → “ke rumah” karena “ke” preposisi tempat, dipisah dari kata benda.
Hasil: “Presiden Joko Widodo berkunjung ke Rumah Ibu itu pada hari Senin.” Kalimat kini memenuhi kaidah ejaan: kapital, preposisi, dan nama diri.
Jebakan: menyamakan “di” preposisi dengan “di” awalan. Yang benar: “di” preposisi (tempat) ditulis terpisah; “di” awalan verba pasif (diambil, dimakan) ditulis serangkai.
Jebakan: menulis kapital pada semua kata yang terlihat penting. Yang benar: kapital hanya untuk nama diri, awal kalimat, hari, bulan, dan gelar di depan nama; kata umum tetap huruf kecil.
- “di/ke” preposisi (tempat/arah) ditulis terpisah; “di-/ke-” awalan verba (pasif/sifat) diserangkai.
- Huruf kapital: awal kalimat, nama diri, gelar di depan nama, hari, bulan, hari raya.
- Angka 0-9 dalam teks naratif ditulis huruf; angka untuk nominal besar, tanggal, dan ukuran teknis.
- Kata ulang penuh selalu ditulis dengan tanda hubung (buku-buku, kupu-kupu).
- Di soal ujian, hafalkan empat pola di atas — itu 80 persen kesalahan ejaan yang diuji.