Langsung ke isi
Lyra
TPS & Kuantitatif · Umum · 7 menit baca UTBK

Menggabungkan Banyak Premis

Setelah ini kamu bisa merangkai tiga premis atau lebih menjadi rantai implikasi utuh dan menarik satu kesimpulan yang dijamin premis-premisnya.

“Jika A, maka B. Jika B, maka C. Jika C, maka D.” Kamu tahu A benar — apakah D pasti benar? Banyak siswa berhenti di B, padahal rantai bisa dilanjutkan sampai ujung. PU senang menguji apakah kamu melihat seluruh rantai atau hanya ruas pertama. Mari latih merangkai premis menjadi satu kesimpulan utuh.

Coba kerjakan tiga butir berikut; tarik kesimpulan dari rantai premis yang diberikan.

Rantai implikasi: maju dari titik benar

Bila beberapa implikasi saling menyambung (A→BA \to B, B→CB \to C, C→DC \to D), kamu boleh berjalan maju dari titik mana pun yang kamu ketahui benar. Tahu BB benar? Lanjutkan ke CC lalu DD. Tahu AA benar? Berjalanlah dari awal sampai DD. Prinsipnya: rantai implikasi bersifat transitif — bila A→BA \to B dan B→CB \to C, maka A→CA \to C.

Silogisme berantai (hipotesis berantai) adalah penalaran sah yang merangkai beberapa implikasi menjadi satu rantai transitif: dari A→BA \to B, B→CB \to C, C→DC \to D, disimpulkan A→DA \to D. Titik tengah (BB, CC) berperan sebagai jembatan.

Aturan praktis untuk PU: bila diberi rantai premis implikasi dan satu fakta, lakukan modus ponens berturut-turut sepanjang rantai sampai mentok. Jangan berhenti di tengah kecuali soal meminta kesimpulan parsial.

Berantai: (A→B)∧(B→C)∧(C→D)  ⇒  A→D\text{Berantai: } (A \to B) \wedge (B \to C) \wedge (C \to D) \;\Rightarrow\; A \to D

Arti tiap simbol: A,B,C,DA, B, C, D = pernyataan; →\to = “jika…maka…”; ∧\wedge = “dan”; ⇒\Rightarrow = “mengimplikasikan”. Transitivitas implikasi memungkinkan rantai.

Mundur lewat tollens berantai

Rantai juga bisa dilalui mundur lewat modus tollens. Bila kamu tahu DD salah, maka CC juga salah (karena C→DC \to D); dari CC salah, BB salah; dari BB salah, AA salah. Tollens berantai berguna saat soal memberi informasi negatif di ujung rantai dan bertanya tentang awalnya.

Bayangkan rantai sebagai jalur rel kereta satu arah. Kereta boleh berjalan maju dari stasiun mana pun yang aktif (titik benar), dan berjalan mundur bila rel di depannya putus (titik salah). Yang mustahil: berjalan dari stasiun mati ke arah aktif (kontradiksi).

Menyusun urutan premis

Soal PU kadang memberi premis acak dan meminta kamu memilih urutan pemakaian agar rantai tersambung. Keterampilan inti: cari pasangan premis yang berbagi term — ujung salah satu cocok dengan awal yang lain. Urutkan sehingga konsekuen satu menjadi antecedens premis berikutnya.

Mengenali lompatan tak sah

Tidak semua kesimpulan dari banyak premis itu sah. Jebakan khas: menyimpulkan lebih jauh dari yang dijamin rantai, atau mengabaikan fakta yang memutus rantai. Latih membedakan kesimpulan utuh dari lompatan tak berdasar.

Komponen deduktif PU (framework SNPMB) kerap memberi 3-4 premis dan bertanya kesimpulan akhir. Skor datang dari merangkai premis menjadi rantai transitif dan berhenti tepat di batas yang dijamin, bukan melompat ke kesimpulan yang terdengar benar tetapi tidak ditopang.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Premis: (1) Jika rajin belajar, nilai bagus. (2) Jika nilai bagus, mendapat beasiswa. (3) Jika mendapat beasiswa, kuliah gratis. Diketahui Andi tidak kuliah gratis. Kesimpulan tentang Andi?

Rajin → nilai bagus → beasiswa → kuliah gratis. Rantai transitif: rajin → kuliah gratis.

Fakta: tidak kuliah gratis = konsekuen ujung salah. Terapkan tollens berantai mundur.

¬(kuliah gratis) → ¬(beasiswa) → ¬(nilai bagus) → ¬(rajin belajar). Kesimpulan: Andi tidak rajin belajar.

Jebakan: berhenti di tengah rantai padahal soal meminta kesimpulan akhir. Yang benar: lanjutkan ponens berantai sampai ujung yang diizinkan premis.

Jebakan: dari fakta ujung benar, menyimpulkan awal benar (mengiyakan konsekuen berantai). Yang benar: konsekuen benar tidak menjamin antecedens; gunakan tollens hanya bila fakta negatif.

Jebakan: menyimpulkan rantai tanpa memastikan term penghubung tersambung. Yang benar: konsekuen satu premis harus menjadi antecedens premis berikutnya; bila ada celah, rantai putus.

  • Silogisme berantai merangkai implikasi menjadi rantai transitif: A→B, B→C, C→D menghasilkan A→D.
  • Ponens berantai: berjalan maju dari titik benar sampai ujung yang diizinkan.
  • Tollens berantai: berjalan mundur dari fakta negatif di ujung menuju awal.
  • Sambung term penghubung; konsekuen satu premis = antecedens premis berikutnya.
  • Berhenti tepat di batas yang dijamin premis, jangan lompat ke kesimpulan tak berdasar.