Langsung ke isi
Lyra
TPS & Kuantitatif · Umum · 7 menit baca UTBK

Penalaran Kondisional: Modus Ponens & Tollens

Setelah ini kamu bisa menerapkan “jika p maka q” dengan modus ponens dan modus tollens, serta mengenali sesat pikir mengiyakan/menyangkal konsekuen.

“Jika hujan, jalanan basah.” Kamu melihat jalanan basah — apakah kamu boleh menyimpulkan hujan? Banyak yang tergoda menjawab ya, padahal basah bisa karena air ledeng atau pipa pecah. Inilah jebakan klasik PU: q yang benar tidak menjamin p. Mari pelajari kapan implikasi boleh ditarik maju, dan kapan harus ditarik mundur.

Coba kerjakan tiga butir berikut; pilih kesimpulan yang sahih dari tiap pasangan premis.

Dua jalur sah: ponens dan tollens

Pernyataan “jika pp maka qq” (p→qp \to q) berjanji: kapan pun pp benar, qq pasti benar. Dari janji itu lahir dua jalur penalaran sah. Pertama, modus ponens: bila kamu tahu pp benar, kamu boleh mengambil qq. Kedua, modus tollens: bila kamu tahu qq salah, maka pp juga harus salah (karena kalau pp benar, qq pasti benar — kontradiksi). Dua jalur ini satu-satunya cara menarik kesimpulan pasti dari implikasi tunggal.

Modus ponens adalah penalaran sah: dari p→qp \to q dan pp, simpulkan qq. Modus tollens adalah penalaran sah: dari p→qp \to q dan ¬q\neg q, simpulkan ¬p\neg p. Keduanya mengikuti arah implikasi, tidak membaliknya.

Ponens: (p→q)∧p  ⇒  q\text{Ponens: } (p \to q) \wedge p \;\Rightarrow\; q Tollens: (p→q)∧¬q  ⇒  ¬p\text{Tollens: } (p \to q) \wedge \neg q \;\Rightarrow\; \neg p

Arti tiap simbol: pp = antecedens (premis), qq = konsekuen (akibat), →\to = “jika…maka…”, ¬\neg = negasi, ∧\wedge = “dan”, ⇒\Rightarrow = “mengimplikasikan”.

Dua sesat pikir khas

Dua jebakan yang sering muncul di PU terjadi saat kamu membalik arah implikasi. Pertama, mengiyakan konsekuen: dari p→qp \to q dan qq, menyimpulkan pp. Salah, karena qq bisa timbul dari sebab lain. Kedua, menyangkal antecedens: dari p→qp \to q dan ¬p\neg p, menyimpulkan ¬q\neg q. Salah juga, karena qq tetap bisa benar lewat jalur lain. Kedua sesat pikir ini melanggar prinsip “implikasi hanya berjanji satu arah”.

Bayangkan p→qp \to q sebagai “tombol pp menyalakan lampu qq”. Tombol itu menyalakan lampu bila ditekan, tetapi lampu juga bisa dinyalakan saklar lain. Jadi melihat lampu menyala tidak membuktikan tombol pp ditekan; dan melihat tombol tidak ditekan tidak membuktikan lampu mati.

Membaca tabel kebenaran implikasi

Tabel kebenaran p→qp \to q menunjukkan implikasi hanya salah pada satu kasus: pp benar dan qq salah. Tiga kasus lain membuat implikasi benar — termasuk saat pp salah, apa pun nilai qq. Pemahaman ini menjelaskan mengapa menyangkal antecedens dan mengiyakan konsekuen keduanya tidak sah.

Komponen deduktif PU (framework SNPMB) menguji penalaran kondisional lewat soal “kesimpulan yang sahih” atau “jenis kesalahan penalaran”. Skor datang dari membedakan ponens/tollens (sah) dari dua sesat pikir khas — bukan dari apa yang terdengar masuk akal.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Premis 1: “Jika barang rusak, diperbaiki.” Premis 2: “Barang tidak diperbaiki.” Kesimpulan apa yang sahih?

Premis 1 = p→qp \to q dengan pp = “rusak”, qq = “diperbaiki”. Premis 2 = ¬q\neg q (tidak diperbaiki).

Fakta ¬q\neg q cocok dengan jalur tollens, bukan ponens (ponens butuh pp, bukan ¬q\neg q).

Modus tollens: p→qp \to q dan ¬q\neg q mengimplikasikan ¬p\neg p. Kesimpulan sahih: “Barang tidak rusak.”

Jebakan: melihat qq benar lalu menyimpulkan pp (mengiyakan konsekuen). Yang benar: qq bisa timbul dari sebab lain; hanya pp (ponens) atau ¬q\neg q (tollens) yang menjamin kesimpulan.

Jebakan: mengetahui pp salah lalu menyimpulkan qq salah (menyangkal antecedens). Yang benar: pp salah tidak menyangkal qq; qq tetap bisa benar lewat jalur lain.

Jebakan: mengira implikasi dua arah (bikonisional) padahal hanya “jika…maka…” satu arah. Yang benar: p→qp \to q berbeda dari q→pq \to p; jangan balik arah kecuali ada pernyataan eksplisit “jika dan hanya jika”.

  • Dua jalur sah dari p→qp \to q: modus ponens (pp benar → qq) dan modus tollens (¬q\neg q → ¬p\neg p).
  • Mengiyakan konsekuen (qq → pp) dan menyangkal antecedens (¬p\neg p → ¬q\neg q) adalah sesat pikir.
  • Implikasi hanya salah pada satu kasus: pp benar dan qq salah; tiga kasus lain membuatnya benar.
  • Jangan balik arah implikasi kecuali ada pernyataan “jika dan hanya jika”.
  • Di PU, pilih kesimpulan yang dijamin premis, bukan yang terdengar masuk akal.