Konstruksi Realitas Sosial
Setelah ini kamu bisa menjelaskan bagaimana realitas sosial dikonstruksi lewat siklus eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.
Mengapa kamu merasa wajar mengantri, menyalami tangan orang tua, atau membayar pajak? Padahal tidak ada hukum alam yang memaksanya. Jawabannya: kamu dan banyak generasi sebelummu telah menciptakan realitas itu, lalu menerima kembali sebagai sesuatu yang sudah ada. Peter Berger dan Thomas Luckmann menyebutnya konstruksi realitas sosial. Coba lihat sendiri di bawah.
Apa itu konstruksi realitas sosial
Masyarakat bukan sesuatu yang sudah jadi sejak awal; ia dibangun terus-menerus oleh anggotanya. Peter Berger dan Thomas Luckmann berargumen bahwa realitas sosial diciptakan lewat proses tiga tahap yang berulang. Pertama, manusia mengeksternalisasikan diri lewat tindakan dan gagasan. Kedua, hasil tindakan itu menjadi objektiv โ berdiri sendiri di luar penciptanya. Ketiga, generasi berikutnya menginternalisasikan kembali sebagai kenyataan yang sudah ada. Begitulah masyarakat terus menciptakan dan menerima dirinya.
Konstruksi realitas sosial adalah proses berkelanjutan di mana masyarakat menciptakan lembaga dan norma, lalu menganggapnya sebagai kenyataan yang sudah ada sejak dahulu.
Tiga tahap siklus
Tahap pertama, eksternalisasi, adalah saat manusia menuangkan diri ke dunia lewat kerja, bahasa, dan aturan yang dibuat. Tahap kedua, objektivasi, terjadi ketika hasil ciptaan itu memadat menjadi lembaga โ misalnya sekolah, pasar, atau upacara adat โ yang seolah berdiri sendiri terlepas dari siapa yang membuatnya. Tahap ketiga, internalisasi, adalah saat individu generasi berikutnya menyerap lembaga itu sebagai kenyataan yang wajar, bahkan tanpa bertanya mengapa. Inilah sebabnya kamu merasa antri itu wajar, padahal sebenarnya itu hasil ciptaan sosial.
Susun sendiri siklus itu.
Memadankan objektivasi dengan gagasan
Tidak setiap gagasan menjadi objektiv. Yang objektiv adalah yang sudah memadat menjadi lembaga atau benda yang diakui bersama. Coba kamu bedakan objektivasi dari gagasan mentah.
Bayangkan jejak kaki di pasir. Mula-mula seseorang berjalan (eksternalisasi). Banyak orang mengikuti sehingga jadi jalan setapak yang jelas (objektivasi). Anak yang lahir kemudian melihat jalan setapak itu dan menganggapnya sudah ada sejak dulu (internalisasi). Padahal itu bermula dari langkah kaki manusia.
Mengenali internalisasi
Internalisasi adalah ujung siklus di mana realitas sosial diterima sebagai kenyataan yang wajar. Tanpa sadar, individu tidak lagi mempertanyakan mengapa. Coba kamu sorot contoh internalisasi pada teks berikut.
Soal TKA Sosiologi (kerangka Peraturan Ka. BSKAP 045/H/AN/2025) kerap menyodorkan kasus dan menanyakan tahap konstruksi yang sesuai. Jebakan paling sering: menyamakan eksternalisasi dengan objektivasi. Cara bertahan: eksternalisasi = gagasan dikeluarkan; objektivasi = sudah memadat jadi lembaga; internalisasi = diterima sebagai hal wajar.
Coba dulu di kertas, baru buka.
Soal. Sekelompok warga membentuk arisan bulanan. Setelah sepuluh tahun, arisan itu tertulis di pengurus RT dan anak-anak di kampung tumbuh menganggap arisan adalah hal biasa. Jelaskan tahap konstruksi yang terjadi.
Saat warga mula-mula membentuk arisan, mereka mengeksternalisasikan diri โ menuangkan gagasan ke dalam tindakan nyata.
Setelah sepuluh tahun, arisan tertulis di pengurus RT dan dijalankan teratur. Hasil ciptaan itu telah memadat menjadi lembaga yang berdiri sendiri โ itulah objektivasi.
Anak-anak tumbuh menganggap arisan biasa, tanpa mempertanyakan asalnya. Realitas itu telah diinternalisasikan kembali sebagai kenyataan yang wajar.
Jebakan: menyamakan eksternalisasi dengan objektivasi. Yang benar: eksternalisasi = gagasan dikeluarkan ke dunia; objektivasi = hasilnya sudah memadat jadi lembaga yang berdiri sendiri.
Jebakan: mengira realitas sosial sudah ada sejak awal tanpa keterlibatan manusia. Yang benar: realitas sosial dikonstruksi terus-menerus oleh anggotanya, lalu diinternalisasi kembali sebagai kenyataan yang wajar.
- Realitas sosial dibangun terus-menerus oleh masyarakat, bukan sudah jadi sejak awal.
- Tiga tahap: eksternalisasi, objektivasi, internalisasi.
- Eksternalisasi = gagasan dikeluarkan; objektivasi = memadat jadi lembaga; internalisasi = diterima wajar.
- Lembaga sosial seperti uang dan sekolah adalah hasil objektivasi.
- Siklus ini berulang lintas generasi.