Langsung ke isi
Lyra
Sosiologi ยท Kelas 10 ยท Fase E ยท 7 menit baca

Interaksi Disosiatif: Persaingan dan Kontestasi

Setelah ini kamu bisa mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi disosiatif (persaingan, kontravensi, konflik) pada kasus sehari-hari.

Dua pedagang berlomba menarik pembeli tanpa saling menyakiti. Tetangga mulai saling curiga dan berbisik di belakang. Kerumunan rusuh bentrokan dengan aparat. Ketiganya benturan kepentingan, tapi derajatnya berbeda. Mengapa disebut interaksi disosiatif? Coba lihat sendiri di bawah.

Baca tiap kasus, lalu pilah ke kolom bentuk interaksi disosiatif yang tepat.

Apa itu interaksi disosiatif

Interaksi disosiatif adalah bentuk interaksi yang menceraiberaikan. Tujuannya menyangkut benturan kepentingan, nilai, atau sumber daya, sehingga hubungan antarpihak menjadi tegang. Lawannya adalah interaksi asosiatif yang menyatukan. Walaupun terdengar negatif, bentuk disosiatif juga wajar dalam masyarakat, sebab manusia tidak selalu sepakat.

Interaksi disosiatif adalah bentuk interaksi sosial yang bersifat menceraiberaikan, mengarah pada persaingan, penyangkalan, atau pertentangan terbuka.

Tiga derajat pertentangan

Sosiologi membedakan tiga derajat pertentangan. Persaingan adalah lomba mencapai sesuatu tanpa kontak langsung atau kekerasan, sehingga setiap pihak berusaha menjadi yang terbaik. Kontravensi adalah penyangkalan, keraguan, atau penolakan terselubung terhadap pihak lain, belum sampai bentrokan. Konflik adalah pertentangan terbuka yang melibatkan kekerasan atau ancaman. Kamu perlu peka membedakan persaingan dari konflik.

Urutan derajat pertentangan

Pertentangan biasanya meningkat secara bertahap. Bila persaingan tidak dikelola, ia bisa berubah menjadi kontravensi (penyangkalan), dan bila kontravensi memburuk, ia meluas menjadi konflik terbuka. Kamu perlu mengenali urutan ini agar bisa menghentikan eskalasi sejak dini.

Mengenali kontravensi

Kontravensi sering luput karena bersifat terselubung. Ia muncul sebagai bisik-bisik, gerutu, atau brosur perlawanan, belum sampai bentrokan. Bila tidak ditangani, ia bisa menjadi konflik. Kamu perlu menyorot ciri mana yang menandakan kontravensi dan mana yang sudah menjadi konflik terbuka.

Soal TKA Sosiologi (kerangka Peraturan Ka. BSKAP 045/H/AN/2025) kerap menyodorkan kasus dan bertanya bentuk disosiatif apa yang terjadi. Jebakan paling sering: menyamakan persaingan dengan konflik. Yang benar: persaingan adalah lomba sehat tanpa menyakiti, konflik adalah bentrokan terbuka.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Dua warung bersebelahan mula-mula berlomba harga termurah. Setelah berbulan-bulan, pemilik mulai saling curiga dan berbisik negatif ke pembeli. Akhirnya terjadi bacok antartetangga. Tentukan bentuk interaksi di tiap tahap.

Berlomba harga termurah tanpa menyakiti adalah persaingan. Setiap warung berusaha menjadi yang terbaik, tanpa kontak langsung yang melukai.

Bisik negatif ke pembeli adalah kontravensi. Ada penyangkalan dan kecurigaan terselubung, namun belum terjadi bentrokan terbuka.

Bacok antartetangga adalah konflik terbuka yang melibatkan kekerasan. Maka kasus ini menunjukkan eskalasi: persaingan menjadi kontravensi, lalu memburak menjadi konflik.

Jebakan: menyamakan persaingan dengan konflik. Yang benar: persaingan adalah lomba sehat tanpa menyakiti, konflik adalah bentrokan terbuka.

Jebakan: mengabaikan kontravensi karena bersifat terselubung. Yang benar: kontravensi adalah tahap peringatan yang bisa memburuk menjadi konflik bila tidak ditangani.

  • Interaksi disosiatif bersifat menceraiberaikan.
  • Tiga derajatnya: persaingan, kontravensi, konflik.
  • Persaingan lomba sehat; kontravensi penyangkalan terselubung; konflik bentrokan terbuka.
  • Pertentangan bisa eskalasi dari persaingan ke kontravensi lalu konflik.
  • Persaingan sehat masih wajar dalam masyarakat.