Langsung ke isi
Lyra
Sejarah ยท Kelas 10 ยท Fase E ยท 7 menit baca

Membaca Sumber Kerajaan: Prasasti

Setelah ini kamu bisa mengenali jenis prasasti sebagai sumber utama sejarah kerajaan Hindu-Buddha dan membaca nilai historisnya.

Bagaimana kita tahu bahwa raja Mulawarman pernah memerintah di Kutai, atau bahwa Sriwijaya pernah menguasai Palembang? Tidak ada koran atau berita TV dari masa itu. Jawabannya adalah prasasti โ€” tulisan yang dipahat pada batu, lempengan tembaga, atau lembaga yang bertahan ratusan tahun. Mengapa prasasti begitu penting bagi sejarawan? Coba lihat sendiri di bawah.

Baca tiap sumber, lalu pilah ke kolom jenisnya yang tepat.

Apa itu prasasti

Prasasti adalah tulisan yang dipahat atau ditulis pada bahan tahan lama seperti batu, lempengan tembaga, atau lempengan emas, dari masa lampau. Karena bahan ini tahan lama, prasasti menjadi sumber tertulis tertua dan paling otentik untuk menelusuri sejarah kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Berbeda dengan kitab yang dapat disalin ulang dan berubah, prasasti biasanya tetap dalam bentuk aslinya sehingga menjadi bukti langsung dari zaman itu.

Prasasti adalah dokumen tertulis yang dipahat pada bahan tahan lama (batu, tembaga, emas) dari masa lampau; sumber tertulis tertua dan paling otentik bagi sejarah kerajaan Hindu-Buddha.

Jenis prasasti

Ada beberapa jenis prasasti yang sering dijumpai. Yupa adalah tiang batu khas Kutai yang dipahat dengan aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta; tujuh yupa di Muara Kaman menyebut silsilah raja Mulawarman. Prasasti batu, seperti prasasti Kedukan Bukit (Sriwijaya, 682 M), biasanya berisi peristiwa penting seperti perjalanan suci. Prasasti lempeng logam (tembaga, perunggu, emas) dipakai untuk piagam pengesahan, hadiah, atau perjanjian. Selain prasasti, ada juga kitab seperti Negarakertagama dan Pararaton, tetapi kitab adalah sumber sekunder yang disalin ulang.

Tahap membaca prasasti

Membaca prasasti tidak sesederhana membaca buku modern. Pertama, epigraf menemukan dan membersihkan prasasti. Kedua, ia membaca aksara kuno (Pallawa, Jawa Kuno) dan bahasanya (Sansekerta, Melayu Kuno). Ketiga, ia menerjemahkan isi ke bahasa modern. Keempat, ia menafsirkan konteks: siapa raja, apa peristiwa, kapan terjadi. Tahap ini menunjukkan kerja sejarawan yang teliti.

Ciri prasasti kuno

Prasasti kuno memiliki ciri khas. Biasanya dipahat pada batu atau lempengan logam, memakai aksara Pallawa atau Jawa Kuno, dan berbahasa Sansekerta atau Melayu Kuno. Isinya bermacam-macam: pendirian taman, penggalian saluran, hadiah desa, atau perjalanan suci. Kamu perlu menandai ciri mana yang khas prasasti kuno.

Bayangkan prasasti seperti surat yang dikirim dari masa lalu dengan tinta yang tidak luntur. Yupa adalah surat dari Mulawarman yang dipahat di tiang batu; prasasti Kedukan Bukit adalah surat dari Dapunta Hyang yang dipahat di batu Palembang. Beda dengan kitab yang disalin berkali-kali, prasasti tetap dalam bentuk aslinya, sehingga pesannya utuh seperti saat pertama ditulis.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Sebuah lempengan tembaga menyebut hadiah raja berupa pembebasan pajak desa. Apa nilai historis lempengan itu?

Lempengan tembaga adalah prasasti logam. Isinya menyebut hadiah raja berupa pembebasan pajak, yang menunjukkan wewenang raja dan kebijakan ekonomi.

Nilai historisnya adalah membuktikan adanya raja, sistem pajak, dan otoritas pemberian hadiah pada masa itu โ€” sebuah jendela langsung ke struktur kerajaan.

Jebakan: menyamakan prasasti dengan kitab. Yang benar: prasasti ditulis langsung pada zaman itu di bahan tahan lama; kitab adalah naskah yang disalin ulang, sehingga lebih rentan perubahan.

Jebakan: menganggap prasasti hanya ada di kerajaan Hindu. Yang benar: prasasti juga ditemukan di kerajaan Buddha seperti Sriwijaya (Kedukan Bukit, Talang Tuwo).

  • Prasasti adalah tulisan kuno pada batu, tembaga, atau emas dari masa lampau.
  • Yupa adalah prasasti tiang batu khas Kutai dengan aksara Pallawa.
  • Prasasti Kedukan Bukit adalah sumber penting Sriwijaya.
  • Prasasti lebih otentik daripada kitab karena tidak disalin ulang.
  • Epigraf bekerja menemukan, membaca, menerjemahkan, dan menafsirkan prasasti.