Langsung ke isi
Lyra
Sejarah ยท Kelas 10 ยท Fase E ยท 7 menit baca

Kerajaan Hindu-Buddha Besar

Setelah ini kamu bisa mengenali empat kerajaan Hindu-Buddha besar (Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, Majapahit) dan menjelaskan pusat, masa jaya, serta warisannya.

Dari yupa-yupa batu di hulu Mahakam, sampai relief Borobudur di Jawa Tengah, sampai kejayaan dagang Sriwijaya di Sumatra, peradaban Hindu-Buddha pernah menorehkan banyak jejak megah di Nusantara. Setiap kerajaan punya masa jaya dan warisan sendiri. Bagaimana membedakan mereka? Coba lihat sendiri di bawah.

Baca tiap ciri, lalu pilah ke kolom kerajaan yang tepat.

Empat kerajaan Hindu-Buddha besar

Nusantara pernah menjadi rumah bagi banyak kerajaan Hindu-Buddha. Empat yang paling sering dibahas adalah Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, dan Majapahit. Kutai Martadipura adalah kerajaan Hindu tertua (abad 4 M) yang berpusat di hulu Mahakam, Kalimantan Timur; buktinya adalah tujuh yupa batu berbahasa Sansekerta-Pallawa. Tarumanegara (abad 5 M) berdiri di Jawa Barat dengan raja terkenal Purnawarman; prasasti-prasastinya menyebut upaya penggalian saluran air. Sriwijaya (abad 7โ€“13 M) adalah kerajaan Buddha maritim di Sumatra yang menguasai jalur dagang Selat Malaka. Majapahit (abad 13โ€“15 M) adalah kerajaan Hindu terbesar di Jawa Timur dengan ibukota Trowulan.

Kerajaan Hindu-Buddha besar di Nusantara meliputi empat kerajaan utama: Kutai (tertua, Kalimantan), Tarumanegara (Jawa Barat), Sriwijaya (maritim Buddha, Sumatra), dan Majapahit (terbesar, Jawa Timur).

Warisan setiap kerajaan

Setiap kerajaan meninggalkan jejak yang berbeda. Kutai meninggalkan yupa batu yang berisi silsilah raja. Tarumanegara meninggalkan prasasti yang menyebut penggalian saluran Gomati dan Kali Kambang. Sriwijaya meninggalkan prasasti Kedukan Bukit dan warisan sebagai pusat pendidikan Buddha di Asia Tenggara. Majapahit meninggalkan candi-candi seperti Candi Tikus, kitab Negarakertagama karya Mpu Tantular, dan Sumpah Palapa Gajah Mada.

Kronologi empat kerajaan

Memahami kerajaan Hindu-Buddha berarti memahami kronologi. Pertama, Kutai berdiri abad 4 M sebagai kerajaan Hindu tertua. Kedua, Tarumanegara berdiri abad 5 M di Jawa Barat. Ketiga, Sriwijaya berjaya abad 7โ€“13 M sebagai kerajaan maritim Buddha. Keempat, Majapahit mendominasi abad 13โ€“15 M sebagai kerajaan Hindu terbesar. Urutan ini menunjukkan pergeseran pusat kekuasaan dari Kalimantan-Jawa Barat ke Sumatra, lalu ke Jawa Timur.

Ciri Majapahit

Majapahit adalah kerajaan yang paling sering diuji karena kejayaannya luas dan warisannya melimpah. Kamu perlu menandai ciri mana yang khas Majapahit, agar tidak tertukar dengan kerajaan lain.

Bayangkan empat kerajaan Hindu-Buddha seperti empat mercusuar yang menyala pada waktu berbeda di pesisir Nusantara. Mercusuar Kutai menyala pertama di Kalimantan (abad 4), lalu Tarumanegara di Jawa Barat (abad 5). Sriwijaya menyala terang di pesisir Sumatra sebagai pelabuhan dunia (abad 7โ€“13). Terakhir, Majapahit menyala paling terang di Jawa Timur, menerangi hampir seluruh Nusantara (abad 13โ€“15).

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Sebuah prasasti menyebut pendirian taman bernama Kebon Kopi dengan jejak kaki gajah yang dianggap milik Raja Purnawarman. Kerajaan manakah itu?

Prasasti menyebut Raja Purnawarman, raja yang terkenal di Jawa Barat abad ke-5 M.

Karena Raja Purnawarman adalah tokoh kunci, kerajaan itu adalah Tarumanegara.

Jebakan: menyamakan Kutai dengan Majapahit hanya karena sama-sama kerajaan Hindu. Yang benar: Kutai adalah kerajaan Hindu tertua di Kalimantan (abad 4); Majapahit adalah kerajaan terbesar di Jawa Timur (abad 13โ€“15).

Jebakan: menganggap Sriwijaya beragama Hindu. Yang benar: Sriwijaya adalah kerajaan Buddha, pusat pendidikan Buddha Asia Tenggara, meski beda agama dengan Majapahit.

  • Empat kerajaan Hindu-Buddha besar: Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, Majapahit.
  • Kutai tertua (abad 4, Kalimantan) dengan yupa Pallawa.
  • Tarumanegara (abad 5, Jawa Barat) dengan raja Purnawarman.
  • Sriwijaya (abad 7โ€“13, Sumatra) adalah kerajaan maritim Buddha.
  • Majapahit (abad 13โ€“15, Jawa Timur) meninggalkan Negarakertagama dan Sumpah Palapa.