Sriwijaya: Pusat Buddha Asia Tenggara
Setelah ini kamu bisa menjelaskan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim Buddha dan pusat pendidikan Buddha Asia Tenggara, beserta perannya di jalur dagang.
Pada abad ke-7, seorang pendeta Tiongkok bernama I-Tsing singgah di Sumatra selama beberapa bulan untuk mempelajari tata bahasa Sansekerta sebelum melanjutkan ke India. Tempat singgahnya adalah Sriwijaya, sebuah kerajaan Buddha yang menjadi pusat pendidikan terkemuka di Asia Tenggara. Mengapa Sriwijaya begitu penting bagi dunia Buddha dan dagang? Coba lihat sendiri di bawah.
Apa itu Sriwijaya
Sriwijaya adalah kerajaan Buddha yang berpusat di Palembang, Sumatra, dan berjaya antara abad 7โ13 Masehi. Letaknya yang strategis di Selat Malaka membuat Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang menguasai jalur dagang antara India dan Tiongkok. Selain sebagai kekuatan dagang, Sriwijaya juga adalah pusat pendidikan Buddha terbesar di Asia Tenggara; bahkan pendeta Tiongkok I-Tsing singgah di sini selama enam bulan untuk belajar tata bahasa Sansekerta sebelum melanjutkan ke India.
Sriwijaya adalah kerajaan Buddha maritim yang berpusat di Palembang (abad 7โ13 M), dikenal sebagai pusat dagang Selat Malaka sekaligus pusat pendidikan Buddha Asia Tenggara.
Dua peran Sriwijaya
Sriwijaya menjalankan dua peran besar. Sebagai kerajaan maritim, ia menguasai Selat Malaka, memungut cukai dari kapal dagang, dan menjaga keamanan pelayaran dengan armada perang. Sebagai pusat Buddha, ia menyediakan vihara-vihara besar tempat mahasiswa dari Tiongkok dan kawasan lain belajar agama serta bahasa Sansekerta. Kedua peran ini saling menguatkan: dagang membawa kekayaan, dan kekayaan itu membiayai vihara sebagai pusat ilmu.
Linimasa Sriwijaya
Sriwijaya punya siklus kejayaan dan kemunduran. Pertama, Sriwijaya muncul sebagai kerajaan maritim Buddha abad 7 M dengan pusat di Palembang. Kedua, pada abad 8โ9 M, ia mencapai puncak dengan menguasai jalur dagang dan menjadi pusat pendidikan Buddha. Ketiga, abad 11 M, serangan Chola dari India selatan melemahkan armada Sriwijaya. Keempat, abad 13 M, pusat kekuasaan bergeser dan Sriwijaya menurun. Tahap ini menjelaskan keruntuhan kerajaan yang pernah berjaya.
Ciri pusat Buddha
Sebagai pusat Buddha, Sriwijaya memiliki ciri khas yang membedakannya dari kerajaan dagang biasa. Kamu perlu menandai ciri mana yang menunjukkan perannya sebagai pusat ilmu Buddha.
Bayangkan Sriwijaya seperti bandara internasional dengan universitas terkemuka. Setiap kapal yang lewat Selat Malaka singgah untuk membayar cukai dan berdagang (peran maritim). Tetapi banyak juga mahasiswa dari Tiongkok dan Asia Tenggara yang turun untuk belajar agama Buddha di vihara-vihara Sriwijaya (peran pendidikan). Dua fungsi ini berjalan berdampingan, saling menguatkan.
Coba dulu di kertas, baru buka.
Soal. Seorang pendeta Tiongkok bernama I-Tsing singgah enam bulan di Sriwijaya sebelum melanjutkan ke India. Aktivitas apakah yang paling ia lakukan di sini?
I-Tsing adalah pendeta Buddha yang ingin belajar ke India. Sebelum melanjutkan, ia singgah di Sriwijaya untuk mempersiapkan diri.
Karena Sriwijaya adalah pusat pendidikan Buddha, I-Tsing paling banyak mempelajari tata bahasa Sansekerta, bahasa yang dipakai dalam kitab suci Buddha, agar siap di India.
Jebakan: menyamakan Sriwijaya dengan Majapahit. Yang benar: Sriwijaya adalah kerajaan Buddha maritim di Sumatra; Majapahit adalah kerajaan Hindu di Jawa Timur.
Jebakan: menganggap Sriwijaya hanya kerajaan dagang tanpa peran ilmu. Yang benar: Sriwijaya juga pusat pendidikan Buddha Asia Tenggara; I-Tsing singgah untuk belajar Sansekerta di sini.
- Sriwijaya adalah kerajaan Buddha yang berpusat di Palembang (abad 7โ13 M).
- Sebagai kerajaan maritim, ia menguasai jalur dagang Selat Malaka.
- Sebagai pusat Buddha, ia menjadi tujuan belajar I-Tsing dan mahasiswa asing.
- Sumber utama: prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, dan catatan I-Tsing.
- Serangan Chola abad 11 melemahkan armada dan menandai kemunduran.