Langsung ke isi
Lyra
Kimia · Kelas 11–12 · Fase F · 7 menit baca

Titrasi Redoks & Pereaksi Oksidator-Reduktor

Setelah ini kamu bisa menggunakan titrasi redoks untuk menentukan konsentrasi analit dan mengenal oksidator-reduktor kuat yang umum dipakai di laboratorium.

Air sumur keruh dimasukkan ke Erlenmeyer, larutan ungu KMnO₄ diteteskan dari buret perlahan. Beberapa tetes pertama warna ungu cepat hilang, lalu tiba-tiba satu tetes membuat larutan tetap merah muda — titik akhir tercapai. Tanpa indikator tambahan, KMnO₄ sendiri menandai reaksi selesai karena berlebih. Inilah titrasi redoks, cara menentukan kadar zat berdasarkan reaksi serah-terima elektron. Bagaimana cara kerjanya? Coba pilah di bawah.

Baca tiap pereaksi, lalu pilah yang termasuk oksidator kuat atau reduktor kuat, kemudian tekan Periksa.

Inti titrasi redoks

Titrasi redoks adalah metode penetapan kadar zat berdasarkan reaksi redoks antara analit (zat yang ditetapkan) dan titran (larutan baku). Titran direlasikan lewat persamaan setengah reaksi yang sudah setara — mol elektron yang diserah-terima harus seimbang. Titik ekuivalen tercapai saat mol titran tepat bereaksi penuh dengan analit. Titik akhir (yang diamati) ditandai perubahan warna, baik dari pereaksi sendiri maupun indikator tambahan.

Titrasi redoks adalah titrasi yang prinsipnya berdasarkan reaksi serah-terima elektron antara analit dan titran. Oksidator kuat adalah spesi yang mudah menerima elektron (bereaksi sebagai reduksi), sedangkan reduktor kuat mudah melepas elektron (bereaksi sebagai oksidasi).

Pasangkan pereaksi dengan perannya.

Metode permanganometri dan dikromatometri

Permanganometri memakai KMnO₄ sebagai titran oksidator dalam suasana asam. Kelebihannya: KMnO₄ berfungsi pula sebagai indikator sendiri karena warna ungumya yang kuat — saat titik akhir tercapai, satu tetes berlebih membuat larutan tetap merah muda. Dikromatometri memakai K₂Cr₂O₇ yang lebih stabil namun perlu indikator karena perubahan warnanya kurang tajam. Keduanya sering dipakai menetapkan kadar Fe²⁺, oksalat, atau H₂O₂.

Sorot ciri titrasi redoks.

Iodometri dan iodimetri

Metode berbasis iodin juga umum. Iodimetri menetapkan reduktor langsung dengan titrasi I₂. Iodometri menetapkan oksidator secara tidak langsung: oksidator dibebaskan I₂ dari KI berlebih, lalu I₂ yang terbentuk dititrasi dengan tiosulfat (Na₂S₂O₃). Indikator amilum (kanji) memberi warna biru tua dengan I₂; hilangnya warna biru menandai titik akhir. Metode ini banyak dipakai menetapkan kadar vitamin C, tembaga, atau klor.

Susun langkah titrasi redoks.

Bayangkan titrasi redoks seperti perukaran koin antar dua dompet. KMnO₄ (dompet kaya elektron terimap) mengambil 5 elektron per molekul di suasana asam, sementara Fe²⁺ (dompet pemberi) menyerahkan 1 elektron per ion. Untuk pertukaran rapi, butuh 5 Fe²⁺ untuk tiap KMnO₄ — itulah peran persamaan setengah reaksi yang setara. Saat dompet KMnO₄ kehabisan lawan yang bisa memberi, satu tetes berlebih tetap utuh sebagai warna merah muda — tanda transaksi selesai.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Sebanyak 25,0 mL larutan Fe²⁺ dititrasi dengan KMnO₄ 0,020 M dan titik akhir tercapai pada 20,0 mL. Berapa molaritas Fe²⁺? (Reaksi: MnO₄⁻ + 5Fe²⁺ + 8H⁺ → Mn²⁺ + 5Fe³⁺ + 4H₂O.)

Mol KMnO₄ = M × V = 0,020 × 0,020 = 4,0×10−44,0 \times 10^{-4} mol.

Perbandingan 1

, mol Fe²⁺ = 5 × 4,0×10−44,0 \times 10^{-4} = 2,0×10−32,0 \times 10^{-3} mol. Molaritas Fe²⁺ = 2,0×10−32,0 \times 10^{-3} ÷ 0,025 = 0,080 M.

Jebakan: menyamakan titik ekuivalen dengan titik akhir. Yang benar: titik ekuivalen adalah titik teoretis saat mol titran tepat bereaksi penuh dengan analit. Titik akhir adalah titik yang diamati (perubahan warna) dan biasanya sedikit berlebih dari ekuivalen. Selisih keduanya disebut kesalahan titrasi, ditekan dengan indikator yang tepat.

Jebakan: menyangka KMnO₄ selalu oksidator kuat apa pun suasannya. Yang benar: kekuatan KMnO₄ bergantung suasana — di asam menerima 5 elektron (kuat), di netral/basa hanya 3 atau 1 elektron (lebih lemah). Itulah mengapa permanganometri standar dijalankan di suasana asam sulfat, bukan basa atau netral.

  • Titrasi redoks: penetapan kadar berdasarkan serah-terima elektron.
  • KMnO4 oksidator kuat sekaligus indikator sendiri.
  • K2Cr2O7 oksidator kuat, perlu indikator.
  • Iodometri: oksidator dibebaskan I2, dititrasi tiosulfat.
  • Persamaan setengah reaksi harus setara elektronnya.