Alkohol & Eter: Sifat & Reaksi
Setelah ini kamu bisa mengenali sifat fisik alkohol dan eter serta reaksi oksidasi alkohol primer, sekunder, dan tersier.
Etanol di alkohol 70% membunuh kuman dengan cara mendegradasi membran selnya. Dietil eter dulu dipakai sebagai anestesi pertama dalam operasi. Keduanya senyawa beroksigen dengan kerangka karbon, tetapi perilakunya berbeda. Alkohol (R–OH) punya gugus hidroksi yang polar sehingga larut air dan membentuk ikatan hidrogen. Eter (R–O–R) lebih inert dan mudah menguap. Alkohol juga menarik karena bisa dioksidasi menjadi aldehid, keton, atau sama sekali tidak bereaksi — tergantung jenisnya. Coba pilah di bawah.
Sifat alkohol dan eter
Alkohol (R–OH) memiliki gugus hidroksi yang polar dan dapat membentuk ikatan hidrogen antar molekul. Akibatnya, titik didih alkohol lebih tinggi dari senyawa karbon lain bermassa sama, dan alkohol rantai pendek (metanol, etanol) larut dalam air. Eter (R–O–R) juga punya oksigen, tetapi tidak ada O–H sehingga tidak membentuk ikatan hidrogen sekuat alkohol. Eter lebih mudah menguap, lebih inert (kurang reaktif), dan kurang larut air — alasan eter dipakai pelarut dan anestesi.
Alkohol adalah senyawa dengan gugus hidroksi (-OH) terikat pada atom karbon. Eter adalah senyawa dengan dua gugus alkil terikat pada oksigen (R-O-R). Alkohol primer/sekunder/tersier dibedakan oleh jumlah gugus alkil yang terikat pada karbon pengikat -OH (masing-masing 1, 2, atau 3).
Pasangkan alkohol dengan produk oksidasinya.
Klasifikasi alkohol
Jenis alkohol ditentukan oleh karbon yang membawa gugus -OH. Bila karbon itu hanya terikat pada satu karbon lain, alkohol primer (misal etanol CH₃CH₂OH). Bila terikat pada dua karbon, alkohol sekunder (misal 2-propanol). Bila pada tiga karbon, alkohol tersier (misal tersier-butanol). Klasifikasi ini penting karena menentukan produk oksidasi: primer → aldehid → asam, sekunder → keton, tersier → tidak bereaksi dalam kondisi biasa.
Sorot ciri alkohol dan eter.
Reaksi oksidasi alkohol
Alkohol dapat dioksidasi oleh oksidator seperti K₂Cr₂O₇ atau KMnO₄ dalam suasana asam. Alkohol primer pertama dioksidasi menjadi aldehid; bila oksidasi diteruskan, aldehid menjadi asam karboksilat. Alkohol sekunder dioksidasi menjadi keton — dan berhenti di situ karena keton tahan oksidator lebih lanjut. Alkohol tersier tidak memiliki atom H pada karbon pengikat -OH, sehingga tidak dapat dioksidasi dalam kondisi biasa. Membedakan ketiga jenis alkohol lewat oksidasi adalah teknik analisis klasik.
Susun langkah oksidasi alkohol.
Bayangkan oksidasi alkohol seperti mengupas buah bertahap. Alkohol primer (R-CH₂OH) punya dua “H yang bisa dikupas” pada karbon -OH — kupas satu jadi aldehid, kupas lagi jadi asam. Alkohol sekunder (R₂CHOH) hanya punya satu “H yang bisa dikupas” — sekali kupas jadi keton, lalu mentok. Alkohol tersier (R₃COH) tidak punya H pada karbon -OH sama sekali — tidak bisa dikupas, jadi tidak bereaksi. Jumlah H itulah kunci produknya.
Coba dulu di kertas, baru buka.
Soal. Suatu alkohol (CH₃)₂CHOH dioksidasi dengan K₂Cr₂O₇/H⁺. Produk apa yang terbentuk?
(CH₃)₂CHOH = 2-propanol, alkohol sekunder (karbon -OH terikat 2 karbon).
Alkohol sekunder dioksidasi menjadi keton: propanon (CH₃COCH₃, aseton).
Jebakan: mengira alkohol tersier bisa dioksidasi seperti primer dan sekunder. Yang benar: alkohol tersier tidak punya atom H pada karbon pengikat -OH, sehingga tidak dapat dioksidasi dalam kondisi biasa. Inilah cara analisis membedakan ketiga jenis alkohol — yang tidak bereaksi dengan K₂Cr₂O₄/H⁺ dalam kondisi standar adalah tersier.
Jebakan: menyamakan titik didih alkohol dengan eter bermassa sama. Yang benar: alkohol memiliki titik didih jauh lebih tinggi karena membentuk ikatan hidrogen antar molekul, sedangkan eter hanya gaya dispersi dan dipol-dipol lemah. Etanol (Mr 46) mendidih di 78 °C, sementara dimetil eter (Mr 46, rumus sama) mendidih di −24 °C. Perbedaan ikatan hidrogen sangat besar.
- Alkohol R-OH polar, larut air, ikatan hidrogen kuat.
- Eter R-O-R inert, mudah menguap, kurang larut air.
- Alkohol dibagi primer, sekunder, tersier.
- Primer → aldehid → asam; sekunder → keton; tersier tak bereaksi.
- Oksidator umum: K2Cr2O7/H+, KMnO4.