Langsung ke isi
Lyra
Fisika ยท Kelas 11โ€“12 ยท Fase F ยท 8 menit baca TKA

Dinamika Rotasi (tau = I alfa)

Setelah ini kamu bisa menerapkan Hukum II Newton versi rotasi ฯ„=Iฮฑ\tau = I\alpha untuk menganalisis percepatan sudut katrol bermassa, roda, dan kincir.

Dalam pelajaran sebelumnya katrol selalu dianggap โ€œidealโ€ โ€” massanya nol, tak perlu tenaga untuk memutar, dan tegangan tali kedua sisinya sama persis. Katrol sungguhan tidak begitu. Sebuah katrol baja berputar karena tali menarik sisinya โ€” dan memutar benda bermassa butuh torsi. Sebagian gaya berat beban yang digantung habis untuk mempercepat putaran katrol, bukan untuk mempercepat beban turun. Maka percepatan turunnya lebih kecil daripada ramalan katrol ideal. Persamaan yang menyatukan keduanya adalah ฯ„=Iฮฑ\tau = I\alpha. Coba lihat sendiri di bawah.

Atur massa kedua beban dan katrol pada sistem Atwood, lalu amati percepatan turun dibandingkan katrol ideal tak bermassa.

Analog rotasi Hukum II Newton

Hukum II Newton translasi berbunyi F=maF = ma โ€” gaya resultan menyebabkan percepatan linier, dengan massa sebagai penolak percepatan. Versi rotasinya berbunyi persis selaras: torsi resultan menyebabkan percepatan sudut, dengan momen inersia sebagai penolaknya.

ฯ„=Iฮฑ\tau = I\alpha

Arti tiap simbol: ฯ„\tau = torsi resultan terhadap poros (Nยทm); II = momen inersia benda terhadap poros (kgยทmยฒ); ฮฑ\alpha = percepatan sudut (rad/sยฒ). Persamaan ini adalah kunci dinamika rotasi โ€” analognya F=maF = ma.

Dinamika rotasi mempelajari hubungan antara torsi resultan, momen inersia, dan percepatan sudut sebuah benda berputar, dirumuskan ฯ„=Iฮฑ\tau = I\alpha โ€” padanan rotasi dari F=maF = ma.

Tiga besaran ini berkaitan sederhana: percepatan sudut berbanding lurus dengan torsi resultan, dan berbanding terbalik dengan momen inersia. Torsi ganda membuat percepatan sudut ganda; momen inersia ganda (katrol lebih berat diputar) membuat percepatan sudut tinggal setengah. Inilah mengapa beban di katrol bermassa tidak jatuh sebebas katrol ideal โ€” sebagian โ€œtenagaโ€ torsi terserap untuk mempercepat putaran.

Katrol bermassa: dua tegangan tak sama

Pada katrol ideal (massa nol, I=0I = 0), persamaan ฯ„=Iฮฑ\tau = I\alpha menjadi 0=00 = 0 โ€” tidak ada syarat pada tegangan. Maka tegangan tali kedua sisi katrol sama, T1=T2T_1 = T_2. Tapi pada katrol bermassa, untuk mempercepat putarannya dibutuhkan torsi resultan, yang hanya mungkin bila T1โ‰ T2T_1 \neq T_2.

Lihat dua vektor tegangan pada katrol di kanvas berikut; selisih tegangan inilah yang menghasilkan torsi pemutar.

Selisih tegangan inilah yang membedakan katrol ideal dan katrol bermassa. Pada katrol ideal T1=T2T_1 = T_2; pada katrol bermassa, selisih T1โˆ’T2T_1 - T_2 dibutuhkan agar ฯ„=(T1โˆ’T2)R=Iฮฑ\tau = (T_1 - T_2)R = I\alpha.

Lengan torsi pada katrol = jari-jari

Torsi yang memutar katrol dihasilkan oleh tegangan tali yang bekerja tegak lurus di tepi katrol. Karena tali bersinggungan dengan katrol, lengan mome-nya sama dengan jari-jari RR. Lihat segitiga di bawah โ€” sisi mendatar merepresentasikan RR (lengan momen tegangan).

Karena ฯ„=TR\tau = TR, katrol berjari-jari besar memberi torsi lebih besar untuk tegangan yang sama โ€” namun momen inersia katrol juga tumbuh dengan RR (silinder pejal I=12MR2I = \tfrac{1}{2}MR^2), sehingga efek akhirnya pada percepatan sudut harus dihitung, bukan ditebak.

Membedah sistem katrol bermassa

Untuk sistem katrol bermassa dengan dua beban m1m_1 dan m2m_2 (m2>m1m_2 > m_1) yang dihubungkan tali tak elastis di atas katrol berbentuk silinder pejal bermassa MM dan jari-jari RR, ada tiga persamaan yang diturunkan dari Hukum II Newton (dua translasi + satu rotasi):

m2gโˆ’T2=m2a,T1โˆ’m1g=m1a,(T2โˆ’T1)R=Iฮฑ=12MR2โ‹…aRm_2 g - T_2 = m_2 a, \quad T_1 - m_1 g = m_1 a, \quad (T_2 - T_1)R = I\alpha = \tfrac{1}{2}MR^2 \cdot \frac{a}{R}

Arti tiap simbol: T1,T2T_1, T_2 = tegangan tali sisi ringan dan berat (N); aa = percepatan linier beban = percepatan tali (m/sยฒ); ฮฑ=a/R\alpha = a/R = percepatan sudut katrol; M,RM, R = massa dan jari-jari katrol; I=12MR2I = \tfrac{1}{2}MR^2 = momen inersia silinder pejal.

Menggabungkan ketiganya menghasilkan percepatan sistem: a=(m2โˆ’m1)gm1+m2+12Ma = \dfrac{(m_2 - m_1)g}{m_1 + m_2 + \tfrac{1}{2}M}. Perhatikan suku 12M\tfrac{1}{2}M di penyebut โ€” itulah kontribusi katrol bermassa yang membuat percepatan lebih kecil daripada katrol ideal (M=0M = 0).

Lihat bagaimana ฮฑ\alpha berubah saat torsi digeser (dengan I tetap) di kanvas berikut โ€” hubungannya linier.

Dinamika rotasi masuk kerangka TKA Fisika (045/H/AN/2025) lewat delta D2 โ€” sub-elemen dinamika rotasi di elemen dinamika. Soal tipikal: sistem katrol bermassa, roda yang dipercepat torsi konstan, atau kincir yang mulai berputar. Trik hemat waktu: jangan pecah persamaan satu per satu โ€” gabungkan tiga persamaan (dua translasi + satu rotasi) lalu selesaikan dalam satu langkah untuk percepatan aa.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Sistem katrol Atwood memiliki dua beban m1=2m_1 = 2 kg dan m2=3m_2 = 3 kg dihubungkan tali tak bermassa di atas katrol berbentuk silinder pejal bermassa M=1M = 1 kg dan jari-jari R=0,1R = 0{,}1 m. Ambil g=10g = 10 m/sยฒ. Tentukan percepatan turun beban m2m_2 dan tegangan T2T_2 pada tali sisi berat.

Translasi m1m_1: T1โˆ’m1g=m1aT_1 - m_1 g = m_1 a. Translasi m2m_2: m2gโˆ’T2=m2am_2 g - T_2 = m_2 a. Rotasi katrol: (T2โˆ’T1)R=12MR2โ‹…(a/R)(T_2 - T_1)R = \tfrac{1}{2}MR^2 \cdot (a/R), disederhanakan menjadi T2โˆ’T1=12MaT_2 - T_1 = \tfrac{1}{2}Ma.

Substitusi I=12MR2I = \tfrac{1}{2}MR^2: a=(m2โˆ’m1)gm1+m2+12M=(3โˆ’2)โ‹…102+3+0,5=105,5โ‰ˆ1,82a = \dfrac{(m_2 - m_1)g}{m_1 + m_2 + \tfrac{1}{2}M} = \dfrac{(3-2)\cdot 10}{2 + 3 + 0{,}5} = \dfrac{10}{5{,}5} \approx 1{,}82 m/sยฒ.

m2gโˆ’T2=m2aโ‡’T2=m2(gโˆ’a)=3โ‹…(10โˆ’1,82)=3โ‹…8,18=24,5m_2 g - T_2 = m_2 a \Rightarrow T_2 = m_2(g - a) = 3\cdot(10 - 1{,}82) = 3\cdot 8{,}18 = 24{,}5 N. (Bandingkan katrol ideal: a=105=2a = \tfrac{10}{5} = 2 m/sยฒ, T2=3โ‹…8=24T_2 = 3\cdot 8 = 24 N โ€” sedikit lebih besar karena katrol bermassa memperlambat turun.)

Jebakan: menyamakan percepatan sudut ฮฑ\alpha dengan percepatan linier aa. Yang benar: ฮฑ=a/R\alpha = a/R (bila tali tak slip pada katrol jari-jari RR). Satuan berbeda: aa dalam m/sยฒ, ฮฑ\alpha dalam rad/sยฒ.

Jebakan: menganggap tegangan tali kedua sisi katrol selalu sama. Yang benar: pada katrol ideal (massa nol) T1=T2T_1 = T_2; pada katrol bermassa, T1โ‰ T2T_1 \neq T_2 karena selisih tegangan memberi torsi resultan untuk memutar katrol.

Jebakan: lupa memasukkan suku momen inersia katrol ke dalam penyebut rumus percepatan. Yang benar: pada katrol silinder pejal, penyebut aa berisi m1+m2+12Mm_1 + m_2 + \tfrac{1}{2}M; suku 12M\tfrac{1}{2}M itulah yang membuat percepatan katrol bermassa lebih kecil daripada katrol ideal.

  • Dinamika rotasi: ฯ„=Iฮฑ\tau = I\alpha โ€” padanan rotasi dari F=maF = ma.
  • ฮฑ\alpha berbanding lurus ฯ„\tau, berbanding terbalik II; satuan ฮฑ\alpha rad/sยฒ.
  • Katrol ideal (I=0I=0): T1=T2T_1 = T_2; katrol bermassa: T1โ‰ T2T_1 \neq T_2 (selisih memberi torsi).
  • Lengan torsi tegangan tali pada katrol = jari-jari RR; ฯ„=TR\tau = TR.
  • Sistem katrol bermassa: a=(m2โˆ’m1)gm1+m2+I/R2a = \dfrac{(m_2-m_1)g}{m_1+m_2+I/R^2}; suku I/R2I/R^2 memperlambat turun.