Langsung ke isi
Lyra
Biologi ยท Kelas 11โ€“12 ยท Fase F ยท 7 menit baca

Interaksi Gen & Epistasis

Setelah ini kamu bisa menjelaskan interaksi gen (epistasis dan polimeri) yang memodifikasi rasio fenotip dihibrid standar 9:3:3

menjadi 9
, 12:3
, atau 15
.

Warna buah labu seharusnya mengikuti pewarisan sederhana, tetapi ketika dua gen berinteraksi, rasio fenotip F2 bukannya 9:3:3

melainkan menjadi 9
atau 12:3
. Satu gen dapat menutupi gen lain โ€” fenomena yang disebut epistasis. Inilah mengapa satu sifat bisa dikendalikan oleh banyak gen, dan banyak sifat berubah dari pola Mendel klasik. Bagaimana gen saling โ€œmembungkamโ€? Coba pilah di bawah.

Baca tiap pernyataan, lalu pilah yang benar dan yang salah tentang interaksi gen, kemudian tekan Periksa.

Apa itu epistasis

Pada dihibrid biasa, dua gen berbeda bekerja mandiri menghasilkan rasio 9:3:3

. Tetapi kadang dua gen memengaruhi sifat yang sama dan saling berinteraksi. Epistasis terjadi bila satu gen (epistatik) menutupi ekspresi gen lain (hipostatik), sehingga rasio fenotip berubah. Bila alel penutup dominan, muncul rasio 12:3
; bila resesif, rasio 9
. Interaksi ini menjelaskan mengapa banyak sifat (warna bulu, golongan darah, warna kulit) tidak mengikuti pola Mendel sederhana.

Epistasis adalah interaksi antargenis ketika satu gen menutupi atau memodifikasi ekspresi gen lain pada sifat yang sama, menghasilkan rasio fenotip modifikasi. Gen yang menutupi disebut epistatik; gen yang ditutupi disebut hipostatik.

Pasangkan rasio modifikasi dengan mekanismenya.

Ciri epistasis

Epistasis ditandai oleh modifikasi rasio 9:3:3:1: dua atau lebih kelas fenotip bergabung menjadi satu. Misalnya, pada warna labu, bila salah satu gen dalam keadaan homozigot resesif (bb atau kk), labu menjadi putih tak peduli gen lain โ€” sehingga kelas 3+3+1 bergabung ke kelas โ€œputihโ€, menghasilkan 9 berwarna : 7 putih. Pada polimeri (warna kulit gandum), dua gen serupa berakumulasi efek, menghasilkan gradasi fenotip.

Sorot ciri epistasis.

Warna labu: rasio 9

Lihat modifikasi warna labu sebagai bangun.

Bayangkan dua saklar lampu yang harus hidup bersama agar lampu menyala (warna muncul). Saklar pertama (gen A) dan kedua (gen B) keduanya harus โ€œonโ€. Bila salah satu rusak (resesif), lampu mati (putih) tak peduli saklar lain. Itulah mengapa kelas 3+3+1 bergabung ke โ€œmatiโ€, menyisakan 9 nyala : 7 mati.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Persilangan dua tanaman labu berwarna (AaBb) menghasilkan F2 dengan rasio fenotip 9 berwarna : 7 putih. Jelaskan mengapa rasionya bukan 9:3:3

.

Rasio 9

menunjukkan epistasis resesif duplikat: kedua gen (A dan B) harus memiliki minimal satu alel dominan agar warna muncul.

Genotip A_bb, aaB_, dan aabb menghasilkan fenotip yang sama (putih) karena salah satu gen resesif homozigot. Ketiga kelas (3+3+1) bergabung menjadi 7, menyisakan 9 berwarna (A_B_).

Jebakan: menyamakan epistasis dengan dominansi. Yang benar: dominansi adalah interaksi antar-alel dari gen yang sama (alel dominan menutupi resesif). Epistasis adalah interaksi antar-gen berbeda yang memengaruhi sifat yang sama.

Jebakan: menganggap rasio 9:3:3

selalu berlaku untuk dihibrid. Yang benar: rasio 9:3:3
hanya berlaku bila kedua gen bekerja mandiri tanpa interaksi. Bila ada epistasis, rasio dimodifikasi menjadi 9
, 12:3
, atau 15
.

  • Epistasis: satu gen (epistatik) menutupi gen lain (hipostatik).
  • Rasio modifikasi: 9
    (resesif), 12:3
    (dominan), 15
    (polimeri).
  • Polimeri: gen serupa berakumulasi efek โ†’ gradasi fenotip.
  • Epistasis menjelaskan sifat yang dikendalikan banyak gen.
  • Berbeda dari dominansi (antar-alel) dan kodominansi.