Langsung ke isi
Lyra
Bahasa Indonesia · Kelas 10 · Fase E · 8 menit baca

Mengenali Kata Serapan dari Bahasa Daerah dan Asing

Setelah ini kamu bisa mengenali kata serapan dari bahasa daerah maupun asing dan menyebutkan padanan bakunya.

Saat membaca berita, kamu pasti menemukan kata seperti “kuitansi”, “aktif”, atau “konfirmasi”. Sebagian terasa biasa saja, sebagian lagi terdengar “aneh tapi sering dipakai”. Padahal semua itu adalah kata serapan yang masuk ke bahasa Indonesia dari berbagai sumber. Tahukah kamu mana yang dari bahasa daerah dan mana yang dari bahasa asing? Coba lihat sendiri di bawah.

Coba pasangkan setiap kata di sebelah kiri dengan asal-usulnya di sebelah kanan.

Apa itu kata serapan

Kata serapan adalah kata yang diambil dari bahasa lain, lalu dipakai dalam bahasa Indonesia. Sebagian diserap begitu saja dengan ejaan disesuaikan, sebagian lagi diberi padanan baku agar lebih sesuai kaidah. Karena sudah lama dipakai, banyak kata serapan tidak lagi terasa “asing” bagi penutur Indonesia.

Kata serapan datang dari dua sumber utama. Pertama, bahasa daerah di Nusantara seperti Jawa, Sunda, atau Minangkabau. Kedua, bahasa asing seperti Sanskerta, Arab, Belanda, Tionghoa, dan Inggris. Mengenali asal kata membantu kamu memahami kenapa ejaannya kadang “tidak biasa” dan kenapa ada padanan baku yang dianjurkan.

Sebagian kata serapan mempunyai padanan baku yang sebaiknya dipakai dalam tulisan resmi. Misalnya, “konfirmasi” tetap dipakai, tetapi ” ATM” lebih baik ditulis “antrian tunai mesin” jika konteksnya sangat formal. Memilih padanan yang tepat membuat tulisanmu lebih baku dan jelas.

Kata serapan adalah kata yang berasal dari bahasa lain (daerah maupun asing) dan telah diadopsi menjadi kosakata bahasa Indonesia.

Serapan daerah vs serapan asing

Tidak semua kata yang terdengar “tidak baku” itu serapan asing. Banyak kata sehari-hari di Indonesia sebetulnya serapan dari bahasa daerah. Coba kamu kelompokkan kata-kata berikut agar makin jelas bedanya.

Bayarkan kata serapan itu seperti tamu di rumah. Tamu dari jauh (asing) membawa kebiasaan ejaan sendiri, sedangkan tamu dari kampung sebelah (daerah) biasanya sudah mirip-mirip kebiasaan rumahmu. Keduanya sudah diterima, tapi asalnya tetap berbeda.

Menemukan kata serapan di dalam teks

Saat ujian, kamu sering diminta menyebutkan kata serapan yang muncul di sebuah teks. Triknya: pindai teks sambil mencari kata yang bentuknya tidak mengikuti pola kosakata asli Indonesia, atau yang punya padanan baku. Lalu tanyakan: dari bahasa mana kata ini berasal?

Kata berakhiran “-si” (informasi, evaluasi), “-tas” (kualitas, kompleksitas), “-is” (realistis, analitis), atau berawalan “me-/ber-” yang bunyinya tidak mulus sering kali adalah serapan. Bahasa Sanskerta sering pakai bunyi “a-” di depan atau akhiran “-a” (anugerah, bupati). Kata Belanda sering berakhiran “-i” panjang atau mengandung konsonan rangkap.

Dalam soal membaca TKA dan UTBK, kata serapan sering muncul sebagai pertanyaan kosakata: “padanan kata X yang tepat adalah…” Kamu perlu tahu apakah kata itu serapan dan padanan bakunya agar tidak salah memilih jawaban.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Baca teks berikut, lalu temukan kata serapan asing yang terdapat di dalamnya.

Cari kata yang akhirannya khas serapan, seperti “-um” atau “-en”. Kedua kata di teks ini punya ciri itu.

“eksperimen” berasal dari experiment, “laboratorium” dari kata yang sama dalam Belanda. Keduanya serapan asing.

Kata “siswa”, “sekolah”, “hasil”, dan “pengamatan” adalah kata asli Indonesia, jadi bukan jawaban.

Jebakan: mengira semua kata berakhiran “-si” pasti serapan Inggris. Yang benar: akhiran “-si” bisa dari Belanda, Arab, maupun Latin; cek asal kata secara spesifik, jangan asal tebak dari akhiran saja.

Jebakan: menganggap kata yang terdengar daerah pasti serapan daerah. Yang benar: beberapa kata terdengar daerah padahal aslinya serapan Sanskerta atau Arab yang telah lama masuk; cek asal kata, bukan hanya kesan bunyinya.

  • Kata serapan diambil dari bahasa lain (daerah maupun asing) lalu dipakai dalam Indonesia.
  • Sumber utama: bahasa daerah Nusantara dan bahasa asing (Sanskerta, Arab, Belanda, Inggris).
  • Beberapa serapan punya padanan baku yang dianjurkan dalam tulisan resmi.
  • Ciri serapan: akhiran “-si”, “-tas”, “-is”, atau bunyi khas bahasa sumber.
  • Cek asal kata, jangan tebak dari akhiran atau kesan bunyi saja.