Langsung ke isi
Lyra
Bahasa Indonesia · Kelas 11–12 · Fase F · 8 menit baca UTBKUTBK

Diagnosis & Memperbaiki Kalimat Tidak Efektif

Setelah ini kamu bisa mendeteksi dan memperbaiki delapan jenis kesalahan kalimat tidak efektif, serta memilih kategori masalah dan revisi yang tepat untuk setiap kasus.

Pernah menerima catatan “kalimatmu rancu” tetapi tidak tahu salahnya di mana? Itu wajar, karena kesalahan kalimat tidak efektif punya banyak wajah: ada yang berlebihan, ada yang rancu dua makna, ada yang melanggar logika. Kunci adalah tahu jenisnya, baru bisa diobati. Coba lihat sendiri di bawah.

Coba diagnosis kalimat yang bermakna ganda ini, lalu pilih kategori masalah dan perbaikannya.

Delapan jenis kesalahan kalimat

Bahasa Indonesia mengenal setidaknya delapan jenis kesalahan yang membuat kalimat tidak efektif: (1) pleonasme, (2) kontaminasi (silang bentuk), (3) ambiguitas, (4) subjek ganda, (5) predikat ganda, (6) preposisi berlebih, (7) salah nalar (logika), dan (8) kalimat tanpa subjek/predikat. Masing-masing butuh obat berbeda.

Kalimat tidak efektif adalah kalimat yang gagal memenuhi syarat efektivitas sehingga gagasannya tersampaikan kabur, berlebihan, atau melenceng dari logika.

Setelah syarat efektivitas yang kamu pelajari di artikel sebelumnya, sekarang kita kupas jenis-jenis kesalahan khas beserta cara memperbaikinya.

Kontaminasi: silang bentuk

Kontaminasi terjadi bila dua bentuk baku dicampur jadi satu bentuk silang yang salah. Misalnya “di mana” + “yang” menjadi “yang mana”, atau “sangat baik” + “paling baik” menjadi “paling sangat baik”. Coba perbaiki.

Subjek ganda

Subjek ganda terjadi bila kalimat memiliki dua frasa yang sama-sama berfungsi sebagai subjek. Sering kali karena pengaruh terjemahan atau kebiasaan lisan. Coba diagnosis.

Predikat ganda

Predikat ganda terjadi bila dua kata kerja menempati satu tempat predikat tanpa konjungsi yang jelas. Coba perbaiki.

Preposisi berlebih

Preposisi “dari” sering dipakai berlebihan, terutama sebelum kata depan “pada” atau “untuk”. Coba hapus yang mubazir.

Bayangkan delapan jenis kesalahan seperti delapan penyakit umum. Pleonasme = obat diberi dua kali. Kontaminasi = dua obat dicampur jadi ramuan aneh. Ambiguitas = resep ditulis dengan dua arti. Setiap penyakit butuh obat berbeda — diagnosis tepat adalah kunci.

Di UTBK Pemahaman Bacaan & Menulis dan Literasi Bahasa Indonesia, soal menyunting kalimat hampir selalu menyodorkan minimal satu dari delapan jenis kesalahan ini. Kerangka TKA (Peraturan Ka. BSKAP 045/H/AN/2025) memasukkan “menilai ketepatan-kesesuaian bahasa” sebagai subkompetensi resmi. Tipuan paling sering: kalimat yang terdengar wajar di lisan tetapi tergolong salah secara tertulis. Cara bertahan: kenali pola delapan jenis, lalu cocokkan dengan kasus.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Diagnosis dan perbaiki kalimat berikut: “Berdasarkan dari hasil penelitian itu, sangat penting artinya bagi kemajuan ilmu.”

Ada dua kesalahan: (a) preposisi berlebih — “berdasarkan dari”; (b) subjek kabur — “sangat penting artinya” tanpa subjek yang jelas.

Hapus “dari”: “Berdasarkan hasil penelitian itu…”. Angkat subjek: “hasil penelitian itu sangat penting bagi kemajuan ilmu.”

Hasil: “Berdasarkan hasil penelitian itu, temuan ini sangat penting artinya bagi kemajuan ilmu.” Atau lebih hemat: “Hasil penelitian itu sangat penting bagi kemajuan ilmu.” Kalimat kini bebas dari dua jenis kesalahan.

Jebakan: menyamakan ambiguitas dengan kesalahan ejaan. Yang benar: ambiguitas adalah masalah makna ganda, bukan masalah penulisan kata.

Jebakan: mengira “berdasarkan dari” adalah bentuk formal. Yang benar: “berdasarkan” sudah cukup; tambahan “dari” adalah preposisi berlebih yang lazim dalam kalimat tidak efektif.

  • Delapan jenis kesalahan kalimat: pleonasme, kontaminasi, ambiguitas, subjek ganda, predikat ganda, preposisi berlebih, salah nalar, tanpa subjek/predikat.
  • Setiap jenis punya ciri khas dan obat yang berbeda — diagnosis tepat adalah kunci.
  • Kontaminasi: silang dua bentuk baku menjadi satu yang salah.
  • Subjek/predikat ganda: sisakan satu unsur, hapus atau hubungkan dengan konjungsi.
  • Preposisi berlebih: hapus “dari” yang menumpuk sebelum “pada/untuk/bagi”.