Langsung ke isi
Lyra
Sosiologi ยท Kelas 11โ€“12 ยท Fase F ยท 7 menit baca

Sampling & Instrumen Pengumpulan Data

Setelah ini kamu bisa membedakan teknik sampling (acak, purposive) dan instrumen pengumpulan data sosial (wawancara, kuesioner, observasi).

Seorang peneliti ingin tahu pendapat 10.000 siswa tentang kurikulum baru. Tidak mungkin mewawancarai semuanya โ€” terlalu mahal dan lama. Solusinya: ambil sampel. Tetapi sampel harus mewakili populasi, atau hasilnya meleset. Setelah sampel dipilih, data dikumpulkan lewat wawancara, kuesioner, atau observasi. Pemilihan sampel dan instrumen menentukan kualitas riset. Bagaimana memilihnya? Coba pilah di bawah.

Baca tiap teknik, lalu pilah ke jenisnya (Acak atau Purposive), kemudian tekan Periksa.

Teknik sampling

Sampling adalah cara memilih sebagian anggota populasi untuk diteliti. Sampling acak (probabilitas) memberi setiap anggota peluang sama untuk terpilih โ€” undian, acak sederhana, stratified (berstrata). Hasilnya bisa digeneralisasi ke populasi dan galat bisa dihitung. Sampling purposive (non-probabilitas) memilih sesuai kriteria peneliti โ€” cocok untuk populasi khusus sulit dijangkau (mis. snowball untuk komunitas tersembunyi), tetapi tidak bisa digeneralisasi secara statistik.

Sampling acak (probabilitas) memberi setiap anggota populasi peluang sama terpilih โ€” hasil bisa digeneralisasi. Sampling purposive (non-probabilitas) memilih sesuai kriteria peneliti โ€” cocok untuk kasus khusus tetapi tidak generalisasi. Instrumen adalah alat pengumpulan data: wawancara, kuesioner, observasi.

Pasangkan instrumen dengan cirinya.

Instrumen pengumpulan data

Wawancara adalah tanya-jawab langsung antara peneliti dan responden โ€” menghasilkan data mendalam, cocok untuk eksplorasi. Kuesioner adalah daftar pertanyaan tertulis yang dibagikan ke banyak responden โ€” efisien untuk skala luas. Observasi adalah pengamatan langsung perilaku atau situasi tanpa bergantung laporan responden โ€” cocok untuk fenomena yang sulit diucapkan. Pemilihan instrumen bergantung pada jenis data, skala, dan sumber daya.

Sorot ciri sampel yang representatif.

Langkah pengambilan sampel

Susun langkah pengambilan sampel.

Bayangkan sampling seperti mencicipi sup. Sup (populasi) harus diadok dulu supaya tercampur, lalu satu sendok (sampel) mewakili seluruh sup. Sampling acak seperti mengaduk merata โ€” satu sendok cukup mewakili. Sampling purposive seperti mengambil dari bagian tertentu yang kaya bumbu โ€” enak tetapi tidak mewakili semua sup. Pilih cara sesuai tujuan: ingin tahu rata-rata sup (acak) atau rasa bagian tertentu (purposive).

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Seorang peneliti ingin mempelajari pengalaman penyintas bencana yang masih trauma. Teknik sampling dan instrumen apa yang sebaiknya dipakai?

Penyintas bencana adalah populasi khusus yang sulit dijangkau semua; teknik purposive (mis. snowball) cocok karena peneliti memilih yang memenuhi kriteria dan mau berbagi.

Wawancara mendalam cocok untuk menggali pengalaman trauma, karena fenomena ini sulit ditangkap lewat kuesioner tertutup.

Jebakan: menyamakan sampel besar dengan sampel representatif. Yang benar: ukuran besar tidak menjamin representatif jika tekniknya bias (mis. hanya dari satu kelompok). Sampel representatif diambil dengan teknik acak dan ukuran cukup agar mencerminkan populasi.

Jebakan: memilih instrumen berdasarkan kemudahan saja. Yang benar: instrumen harus sesuai jenis data dan tujuan riset. Wawancara untuk eksplorasi mendalam, kuesioner untuk skala luas, observasi untuk perilaku teramati. Pilih yang tepat, bukan yang termudah.

  • Sampling acak: peluang sama, hasil bisa digeneralisasi.
  • Sampling purposive: sesuai kriteria, untuk kasus khusus.
  • Instrumen: wawancara (mendalam), kuesioner (skala luas), observasi (perilaku).
  • Sampel representatif mencerminkan populasi (teknik acak + ukuran cukup).
  • Pemilihan sampling dan instrumen sesuai tujuan riset.