Kekerasan Langsung, Struktural & Kultural (Galtung)
Setelah ini kamu bisa membedakan kekerasan langsung, struktural, dan kultural menurut Galtung serta menjelaskan segitiga kekerasan.
Pukulan tetangga kelihatan, itu kekerasan langsung. Tetapi ada kekerasan yang tak terlihat tangannya: sistem yang membuat sekelompok orang tak bisa bersekolah, atau budaya yang menganggap satu jenis kelamin lebih rendah. Johan Galtung menyebutnya kekerasan struktural dan kultural. Bagaimana mengenalinya? Coba lihat sendiri di bawah.
Tiga jenis kekerasan Galtung
Johan Galtung membedakan tiga jenis kekerasan. Kekerasan langsung adalah kekerasan fisik atau verbal yang aktornya terlihat jelas: pukulan, penghinaan, atau pengrusakan. Kekerasan struktural adalah kekerasan yang tertanam dalam struktur sosial, sehingga menyebabkan kerugian tanpa aktor langsung, misalnya kemiskinan sistemik atau akses pendidikan yang timpang. Kekerasan kultural adalah aspek budaya yang melegitimasi atau membenarkan kekerasan, misalnya stereotip atau ideologi superioritas.
Kekerasan struktural adalah kekerasan yang melekat pada struktur sosial sehingga menyebabkan kerugian tanpa aktor langsung yang dapat ditunjuk; berbeda dari kekerasan langsung yang aktornya jelas dan kekerasan kultural yang berupa legitimasi budaya.
Langsung vs struktural
Banyak orang hanya mengenali kekerasan langsung karena terlihat. Padahal kekerasan struktural sering lebih meluas dan berlangsung lama. Saat sekelompok anak tak bisa bersekolah karena biaya, tidak ada satu orang yang memukul mereka, tetapi strukturnya tetap melukai masa depan mereka. Kamu perlu membedakan keduanya agar tidak salah menunjuk penyebab penderitaan.
Mengenali kekerasan struktural
Kekerasan struktural tidak selalu tampak sebagai kekerasan. Ia bisa berupa ketimpangan akses pendidikan, kesenjangan gizi antar daerah, atau hukum yang berdampak berbeda pada kelompok berbeda. Kamu perlu menandai ciri yang menunjukkan kekerasan struktural: ada pola sistemik yang melukai sekelompok orang, tanpa aktor individu yang dapat ditunjuk langsung.
Segitiga kekerasan Galtung
Galtung merumuskan segitiga kekerasan yang saling memengaruhi: kekerasan langsung (terlihat), struktural (tertanam), dan kultural (legitimasi). Ketiganya memperkuat satu sama lain. Budaya yang melegitimasi superioritas membenarkan struktur yang timpang, lalu struktur itu menumbuhkan kekerasan langsung. Memutus salah satu sudut dapat melemahkan segitiga keseluruhan.
Bayangkan kekerasan seperti gunung es. Puncak yang terlihat di permukaan adalah kekerasan langsung: tamparan, pengrusakan, penghinaan. Tetapi di bawah air ada gunung yang jauh lebih besar: kekerasan struktural yang tertanam di sistem, dan landasan kultural yang membenarkannya. Memotong puncak saja tidak menenggelamkan gunung.
Coba dulu di kertas, baru buka.
Soal. Di sebuah daerah, anak-anak suku terpencil tidak punya akses sekolah sama sekali karena tidak ada gedung dan guru. Tidak ada yang memukul mereka. Jenis kekerasan apa yang berlangsung?
Kerugian itu bersifat sistemik: ketiadaan gedung dan guru akibat kebijakan yang tidak menjangkau daerah terpencil. Tidak ada aktor individu yang melukai secara langsung.
Karena kerugian melekat pada struktur (kebijakan pendidikan timpang) tanpa aktor langsung, jenis kekerasan yang berlangsung adalah kekerasan struktural.
Jebakan: hanya mengakui kekerasan yang terlihat. Yang benar: kekerasan struktural dan kultural sering lebih meluas dan berlangsung lama, meski tanpa aktor langsung yang dapat ditunjuk.
Jebakan: menganggap tiga jenis kekerasan berdiri sendiri. Yang benar: ketiganya saling memperkuat dalam segitiga Galtung; budaya membenarkan struktur, struktur memicu kekerasan langsung.
- Tiga jenis kekerasan Galtung: langsung, struktural, kultural.
- Langsung = aktor terlihat (fisik, verbal); struktural = tertanam di sistem tanpa aktor langsung.
- Kultural = aspek budaya yang melegitimasi kekerasan (ideologi, stereotip).
- Segitiga kekerasan: ketiga jenis saling memperkuat.
- Kekerasan struktural sering lebih luas dan berlangsung lama daripada langsung.