Langsung ke isi
Lyra
Sejarah ยท Kelas 11โ€“12 ยท Fase F ยท 7 menit baca

Tokoh Perjuangan Wanita: Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien

Setelah ini kamu bisa mengenal tokoh wanita (Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien) dan kontribusi mereka bagi bangsa.

Kartini menulis surat tentang emansipasi dari Jepara. Dewi Sartika mendirikan sekolah perempuan di Bandung. Cut Nyak Dhien memimpin perang di Aceh. Tiga wanita, tiga wilayah, tiga cara berjuang. Mereka membuktikan bahwa perjuangan bangsa tidak hanya soal senjata, tetapi juga pendidikan dan keberanian. Bagaimana mereka berjuang? Coba lihat sendiri di bawah.

Baca tiap tokoh, lalu pasangkan ke wilayah perjuangannya.

R.A. Kartini: emansipasi lewat tulisan

Raden Ajeng Kartini (1879-1904) adalah putri bupati Jepara yang menulis surat-surat tentang penderitaan dan cita-cita perempuan Hindia Belanda. Surat-suratnya kemudian dikumpulkan dalam buku โ€œHabis Gelap Terbitlah Terangโ€. Kartini menginginkan perempuan mendapat pendidikan setara laki-laki dan keluar dari tradisi yang membelenggu. Meski wafat muda, gagasannya memicu gerakan emansipasi perempuan Indonesia.

R.A. Kartini adalah pionir emansipasi perempuan Indonesia (1879-1904) dari Jepara, yang lewat surat-suratnya (terhimpun dalam โ€œHabis Gelap Terbitlah Terangโ€) memperjuangkan pendidikan dan kesetaraan perempuan.

Dewi Sartika: pendidikan untuk perempuan

Dewi Sartika (1884-1947) adalah putri Sunding Bandung yang mendirikan Sakola Istri (1904), sekolah khusus perempuan. Berbeda dari Kartini yang menulis, Dewi Sartika langsung membangun sekolah. Sekolahnya mengajarkan baca-tulis, keterampilan, dan kewanitaan. Inisiatif ini menjadi cikal-bakal pendidikan formal perempuan di Indonesia. Dewi Sartika diangkat sebagai pahlawan nasional.

Cut Nyak Dhien: pejuang bersenjata

Cut Nyak Dhien (1848-1908) adalah pejuang perang Aceh melawan Belanda. Setelah suaminya (Teuku Ibrahim Lamnga) gugur, ia menikah dengan Teuku Umar dan memimpin perang gerilya. Setelah Teuku Umar dikhianati dan gugur, Cut Nyak Dhien tetap melawan sendiri sampai ditangkap dan diasingkan ke Sumedang. Ia melambangkan keberanian perempuan di medan tempur.

Ciri perjuangan wanita

Tokoh wanita Indonesia berjuang dengan cara berbeda. Ada yang lewat tulisan (Kartini), pendidikan (Dewi Sartika), atau senjata (Cut Nyak Dhien). Ciri perjuangan wanita: melawan batasan gender, memperjuangkan kelompok marginal, bertahan di tengah rintangan, dan meninggalkan warisan abadi. Kamu perlu menandai ciri ini agar dapat mengenali kontribusi unik wanita.

Tonggak perjuangan Kartini

Perjuangan Kartini mengikuti tonggak berjenjang. Pertama, ia dibesarkan di lingkungan priyayi dengan tradisi yang membelenggu perempuan. Kedua, ia menulis surat kepada teman-teman Belanda mengeluarkan gagasan emansipasi. Ketiga, surat-suratnya kemudian dikumpulkan jadi buku โ€œHabis Gelap Terbitlah Terangโ€. Keempat, gagasannya memicu gerakan pendidikan perempuan dan hari Kartini diperingati setiap 21 April.

Bayangkan perjuangan wanita seperti tiga anak tangga menuju kemerdekaan. Kartini menulis kata-kata yang membuka mata, Dewi Sartika membangun sekolah yang membuka pintu, dan Cut Nyak Dhien mengangkat senjata yang membuka jalan. Tiga cara berbeda, satu tujuan: bangsa yang adil bagi perempuan dan laki-laki.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Mengapa Cut Nyak Dhien dianggap melambangkan keberanian perempuan, padahal banyak pahlawan laki-laki juga berperang?

Cut Nyak Dhien memimpin perang gerilya di Aceh, suatu daerah dengan tradisi yang pada umumnya membatasi peran perempuan di medan tempur. Setelah suaminya Teuku Umar gugur akibat pengkhianatan Belanda, ia tetap melanjutkan perlawanan sendiri.

Karena ia memimpin perang dalam konteks yang sulit bagi perempuan, dan bertahan meski ditinggal suami, Cut Nyak Dhien melambangkan keberanian luar biasa. Ia membuktikan bahwa perempuan juga mampu menjadi panglima perang, sebuah pelajaran yang terus menggugah.

Jebakan: menyamakan jenis perjuangan semua tokoh wanita. Yang benar: Kartini lewat tulisan, Dewi Sartika lewat pendidikan, dan Cut Nyak Dhien lewat senjata โ€” tiga cara berbeda dengan tujuan sama.

Jebakan: menganggap perjuangan wanita hanya soal emansipasi gender. Yang benar: perjuangan wanita juga berupa perlawanan terhadap penjajah (Cut Nyak Dhien) dan pembangunan bangsa lewat pendidikan (Dewi Sartika).

  • Kartini: emansipasi lewat surat dari Jepara, buku โ€œHabis Gelap Terbitlah Terangโ€.
  • Dewi Sartika: pendidikan, mendirikan Sakola Istri di Bandung (1904).
  • Cut Nyak Dhien: perang gerilya melawan Belanda di Aceh.
  • Tiga jenis perjuangan: tulisan, pendidikan, senjata.
  • Perjuangan wanita melawan batasan gender sekaligus penjajah.