Langsung ke isi
Lyra
Sejarah ยท Kelas 11โ€“12 ยท Fase F ยท 7 menit baca

Perlawanan Pangeran Diponegoro & Perang Lainnya

Setelah ini kamu bisa mengenal perlawanan terhadap Belanda (Diponegoro, Padri, Aceh, Batak) beserta tokoh, sebab, dan hasilnya.

Saat Belanda memasang patok di tanah leluhurnya Tegalrejo, Pangeran Diponegoro tak tahan. Perang Jawa 1825โ€“1830 meletus, melibatkan rakyat, santri, dan bangsawan dalam perlawanan terbesar abad ke-19. Bersamaan, perlawanan serupa terjadi di Sumatra (Padri, Batak) dan Aceh. Mengapa perlawanan ini gagal mengusir Belanda? Coba lihat sendiri di bawah.

Baca tiap perang, lalu pilah ke tokoh pemimpinnya.

Pola perlawanan abad ke-19

Sepanjang abad ke-19, Belanda menghadapi banyak perlawanan lokal saat memperluas kendali. Sebagian dipimpin bangsawan yang tersinggung (Diponegoro di Jawa), sebagian dipimpin tokoh agama (Tuanku Imam Bonjol di Padri), sebagian oleh pemimpin adat (Sisingamangaraja di Batak). Perlawanan ini bersifat lokal dan terpisah-pisah, sehingga Belanda bisa mengalahkannya satu per satu. Meski gagal mengusir Belanda, perlawanan ini menjadi cikal bakal kesadaran kebangsaan yang muncul awal abad ke-20.

Perlawanan lokal abad ke-19 adalah serangkaian perjuangan bersenjata melawan Belanda di berbagai daerah Nusantara, dipimpin tokoh bangsawan, agama, atau adat; bersifat terpisah-pisah dan akhirnya dapat ditaklukkan Belanda.

Empat perlawanan utama

Empat perlawanan utama layak diingat. Perang Diponegoro (1825โ€“1830) dipicu patok di tanah leluhur dan merembet ke sentimen agama serta rakyat. Perang Padri (1803โ€“1838) di Sumatra Barat awalnya konflik internal kaum agama vs adat, lalu melibatkan Belanda; dipimpin Tuanku Imam Bonjol. Perlawanan Aceh (1873โ€“1904) adalah perang gerilya panjang melawan ekspansi Belanda, dengan tokoh seperti Cut Nyak Dien dan Cut Meutia. Perlawanan Batak dipimpin Sisingamangaraja XII sampai 1907. Tiap perlawanan punya konteks lokal khas.

Bayangkan perlawanan abad ke-19 seperti gerakan ombak di tepi pantai. Tiap ombak (perlawanan) tinggi dan berani, tetapi pecah sendiri-sendiri tanpa ombak lain yang menyatu. Belanda bisa menghadapi satu ombak pada satu waktu. Baru di awal abad ke-20 muncul kesadaran untuk menyatukan ombak-ombak itu menjadi gelombang nasional.

Pasangkan perang dengan daerah

Setiap perlawanan berakar di daerah tertentu. Memasangkannya membantumu mengenali konteks geografis perlawanan.

Ciri perlawanan lokal

Perlawanan abad ke-19 memiliki ciri khas. Bersifat lokal, dipimpin tokoh adat/agama/bangsawan, menggunakan strategi gerilya, dan akhirnya ditaklukkan secara terpisah. Mengenali ciri ini membantumu membedakannya dari pergerakan nasional berikutnya.

Peristiwa Perang Diponegoro

Perang Diponegoro adalah yang terbesar. Memahami urutan peristiwanya membantumu melihat eskalasi dari pemicu ke perlawanan rakyat luas.

Jebakan: menganggap Perang Diponegoro murni konflik tanah. Yang benar: pemicu awal memang tanah leluhur, tetapi eskalasi melibatkan sentimen agama, ketidakpuasan rakyat terhadap pajak, dan kebencian pada campur tangan Belanda di keraton; ia perang dengan akar kompleks.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Mengapa perlawanan lokal abad ke-19 akhirnya dapat ditaklukkan Belanda, padahal beberapa bertahun-tahun?

Perlawanan bersifat lokal dan terpisah-pisah, tanpa koordinasi antardaerah. Belanda bisa memusatkan kekuatan di satu front pada satu waktu.

Belanda memiliki pasukan modern, logistik, dan strategi tipu diplomatik (mis. menangkap Diponegoro saat diundang). Tanpa ideologi kemerdekaan nasional yang menyatukan, perlawanan lokal akhirnya jatuh satu per satu.

Jebakan: menyamakan perlawanan lokal dengan pergerakan nasional. Yang benar: perlawanan lokal abad ke-19 bersifat terpisah dan tanpa ideologi kemerdekaan nasional, sedangkan pergerakan nasional (mulai Budi Utomo 1908) sadar sebagai satu bangsa Indonesia; keduanya berbeda skala dan ideologi.

Jebakan: menganggap Perang Padri murni perang melawan Belanda. Yang benar: Perang Padri awalnya konflik internal antara kaum Padri (agama) dan kaum adat di Minangkabau; Belanda masuk belakangan berpihak pada kaum adat, sehingga konflik berubah menjadi perlawanan anti-Belanda.

  • Perlawanan lokal abad ke-19: Diponegoro, Padri, Aceh, Batak.
  • Tokoh: Diponegoro (Jawa), Imam Bonjol (Padri), Cut Nyak Dien (Aceh), Sisingamangaraja (Batak).
  • Ciri: lokal, terpisah-pisah, gerilya, dipimpin tokoh adat/agama/bangsawan.
  • Gagal karena Belanda unggul militer dan perlawanan tak terkoordinasi.
  • Cikal bakal kesadaran kebangsaan awal abad ke-20.