Langsung ke isi
Lyra
Sejarah ยท Kelas 11โ€“12 ยท Fase F ยท 7 menit baca

Mataram Islam: Sultan Agung & Seni Keraton

Setelah ini kamu bisa memahami masa Sultan Agung dan kontribusi budaya Mataram Islam bagi peradaban Nusantara.

Sultan Agung dari Mataram adalah salah satu raja paling agung dalam sejarah Jawa. Ia menyerang Batavia dua kali (1628 dan 1629), membuat kalender Jawa yang dipakai hingga kini, dan membangun tradisi keraton yang kaya. Meski serangannya ke Batavia gagal, ia diingat bukan karena kegagalan, melainkan karena visinya menyatukan Jawa di bawah Islam. Bagaimana Mataram Islam menjadi pusat budaya? Coba lihat sendiri di bawah.

Baca tiap warisan, lalu pilah ke jenisnya, kemudian tekan Periksa.

Mataram Islam dan Sultan Agung

Mataram Islam didirikan oleh Danang Sutawijaya (Panembahan Senapati) akhir abad ke-16, berpusat di Kotagede, Yogyakarta. Berbeda dari Demak yang pesisir, Mataram berpusat di pedalaman Jawa. Puncak kejayaannya di bawah Sultan Agung (1613-1645), raja ketiga. Sultan Agung menyatukan hampir seluruh Jawa di bawah Mataram, memperkuat Islam sebagai agama resmi, dan menjadikan Mataram pusat budaya. Ia juga menyerang VOC di Batavia dua kali (1628, 1629) untuk mengusir Belanda, meski kedua serangan gagal karena logistik dan wabah penyakit.

Mataram Islam adalah kerajaan Islam di pedalaman Jawa (abad 16-18) yang mencapai puncak di bawah Sultan Agung, menyatukan Jawa dan menjadi pusat budaya Islam-Jawa.

Pasangkan peristiwa dengan masanya.

Kontribusi budaya Mataram

Kontribusi Mataram Islam bagi budaya sangat kaya. Sultan Agung menyusun kalender Jawa yang memadukan sistem Saka (Hindu) dan Hijriah (Islam) โ€” siklus delapan tahun yang berputar Alif-Rebut-Wawu-Jim, masih dipakai dalam perayaan seperti Satu Sura. Seni keraton berkembang: gending-gending, tembang (macapat), tarian bedhaya dan serimpi yang sarat makna filosofis. Sastra berkembang lewat serat dan babad yang mencatat sejarah dan ajaran. Arsitektur keraton, masjid agung (Kotagede, Demak), dan tata upacara yang memadukan unsur Hindu-Islam menjadi warisan yang bertahan hingga kini di Yogyakarta dan Surakarta.

Urutkan kampanye Sultan Agung ke Batavia.

Pusat Mataram di pedalaman Jawa

Lihat pusat Mataram sebagai bangun.

Bayangkan Mataram sebagai pohon banyan di tengah Jawa. Akarnya dalam ke tanah (pedalaman), dahan melindungi seluruh Jawa. Batavia di pesisir seperti sarang lebah asing di tepi pulau. Sultan Agung mencoba menebang sarang itu dua kali, tetapi lebah-lebahnya (VOC bersenjata) terlalu banyak dan jaraknya jauh. Meski pohon tidak berhasil mengusir sarang, ia tetap berdiri kokoh dan akarnya menjadi budaya Jawa yang bertahan.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Sultan Agung menyerang Batavia 1628 dan 1629, keduanya gagal. Jelaskan alasan Sultan Agung menyerang dan sebab kegagalan.

VOC di Batavia dianggap mengganggu kedaulatan Mataram dan memonopoli perdagangan. Sultan Agung ingin mengusir VOC agar Mataram bebas dari pengaruh asing dan menguasai perdagangan Jawa.

Pasukan Mataram harus berarak jauh dari pedalaman ke pesisir; logistik makanan habis di perjalanan. VOC bersenjata lebih baik di balik benteng Batavia. Wabah penyakit menyebar di pasukan Mataram yang kelelahan.

Meski gagal, serangan ini menjadi simbol perlawanan Mataram terhadap kolonialisme. Sultan Agung dihormati sebagai pahlawan yang berani menentang Belanda.

Jebakan: menganggap serangan Sultan Agung ke Batavia sia-sia. Yang benar: meski gagal secara militer, serangan itu menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan menunjukkan kedaulatan Mataram. Sultan Agung diperingati sebagai pahlawan, bukan pecundang. Makna historis jauh melampaui hasil militer.

Jebakan: menyamakan Mataram Islam dengan Mataram Hindu. Yang benar: Mataram Hindu (mis. Mataram Kuno abad 8-10, Sanjaya-Sailendra) adalah kerajaan Hindu-Buddha di Jawa Tengah, pelindung Borobudur. Mataram Islam (abad 16-18) adalah kerajaan Islam di pedalaman yang didirikan Panembahan Senapati. Namanya mirip, tetapi berbeda zaman dan agama.

  • Mataram Islam: pedalaman Jawa, didirikan Panembahan Senapati (akhir abad 16).
  • Sultan Agung (1613-1645) puncak kejayaan; menyatukan Jawa.
  • Serang Batavia 1628-1629 gagal, tapi jadi simbol perlawanan.
  • Kontribusi budaya: kalender Jawa, gending, sastra, masjid, tata keraton.
  • Perjanjian Giyanti 1755 membelah Mataram jadi Yogyakarta dan Surakarta.