Sejarah: Konsep dan Definisi
Setelah ini kamu bisa membedakan tiga makna sejarah sebagai peristiwa, ilmu, dan kisah, serta menempatkan suatu kejadian ke aspek yang tepat.
Kamu pasti pernah dengar kata “sejarah” dipakai untuk hal yang berbeda: “sejarah Proklamasi”, “ilmu sejarah”, atau “kisah sejarah nenek moyang”. Tiga ucapan itu sebetulnya menunjuk tiga makna berbeda. Mengapa satu kata bisa punya tiga wajah? Coba lihat sendiri di bawah.
Sejarah sebagai peristiwa
Sejarah pertama-tama adalah kejadian nyata yang benar-benar terjadi pada ruang dan waktu tertentu. Peristiwa ini satu kali terjadi, tidak dapat diulang, dan hanya meninggalkan jejak. Pembacaan teks Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah contoh peristiwa: ada tempat, ada waktu, ada pelaku.
Sejarah sebagai peristiwa adalah kejadian aktual yang berlangsung sekali pada ruang dan waktu tertentu dan meninggalkan jejak berupa sumber.
Sejarah sebagai ilmu
Sejarah juga berarti ilmu yang mengkaji jejak-jejak peristiwa itu secara sistematis. Sejarawan mengumpulkan sumber, mengkritiknya, lalu menafsirkan. Karena memakai metode dan etika ilmiah, sejarah layak disebut ilmu, bukan sekadar dongeng.
Sejarah sebagai kisah
Sejarah ketiga adalah kisah, yaitu hasil rekonstruksi yang diceritakan kembali kepada orang lain. Kisah ini bisa berbentuk buku, film, atau cerita lisan. Karena ditulis manusia, kisah sejarah selalu membawa sudut pandang penulisnya.
Mengapa urutan peristiwa penting
Sebagai ilmu, sejarah sangat mengandalkan kronologi. Tanpa urutan waktu, sebab dan akibat jadi kacau. Itulah sebabnya sejarawan selalu berusaha menyusun peristiwa sesuai urutan terjadinya. Coba susun ulang jejak peristiwa berikut.
Sejarah sebagai ilmu dan sebagai kisah sering tumpang tindih, tetapi keduanya berbeda. Ilmu menekankan metode, sementara kisah menekankan cara bercerita. Latihan berikut membantu kamu memilahnya.
Bayangkan tiga aspek sejarah seperti fotokopi, ahli laboratorium, dan film dokumenter. Peristiwa = benda aslinya; ilmu = ahli yang meneliti sisa-sisanya; kisah = film dokumenter yang ditonton penonton. Tiga-tiganya berbeda, tetapi saling berhubungan.
Coba dulu di kertas, baru buka.
Soal. Seorang guru bercerita di kelas: “Dulu di desa ini ada seorang pahlawan yang mengusir penjajah.” Aspek sejarah apakah yang paling menonjol dari ucapan guru itu?
Kalimat “bercerita” dan “pahlawan yang mengusir penjajah” menunjukkan rekonstruksi yang diceritakan kembali, bukan kejadian itu sendiri.
Bentuk paling menonjol adalah sejarah sebagai kisah, karena cerita lisan yang disampaikan guru merupakan hasil penceritaan ulang.
Jebakan: menganggap “kisah sejarah” selalu sama dengan “peristiwa sejarah”. Yang benar: kisah adalah rekonstruksi yang bisa berbeda-beda versi, sedangkan peristiwa terjadi satu kali.
Jebakan: menyamakan dongeng dengan sejarah sebagai ilmu. Yang benar: dongeng tidak memakai metode ilmiah, sedangkan sejarah sebagai ilmu wajib berlandaskan sumber dan kritik.
- Sejarah punya tiga makna: peristiwa (kejadian nyata), ilmu (kajian sistematis), dan kisah (cerita ulang).
- Sejarah sebagai peristiwa terjadi satu kali dan meninggalkan jejak berupa sumber.
- Sejarah sebagai ilmu memakai sumber, kritik, dan metode yang sistematis.
- Sejarah sebagai kisah selalu membawa sudut pandang penulisnya.
- Kronologi urutan waktu membantu menjelaskan hubungan sebab dan akibat.