Kerajaan Islam Bagian Timur Nusantara
Setelah ini kamu bisa mengenal kerajaan Islam di Maluku dan Sulawesi (Ternate, Tidore, Gowa-Tallo) serta peran rempah-rempah.
Di kepulauan rempah Maluku, dua kerajaan tetangga bersaing abad-abad: Ternate dan Tidore. Jauh di utara, di Sulawesi Selatan, Gowa-Tallo bersatu menjadi kesultanan Makassar yang perkasa. Daerah-daerah ini bukan pusat peradaban besar seperti Majapahit, tetapi mereka menguasai komoditas paling diburu dunia: cengkih, pala, dan fuli. Bagaimana rempah membentuk sejarah kerajaan timur? Coba lihat sendiri di bawah.
Kerajaan Islam Maluku utara
Empat kerajaan Islam utama di Maluku utara dikenal sebagai Moloku Kie Raha (Empat Gunung Maluku): Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Ternate dan Tidore adalah yang paling kuat, saingan abadi dalam memonopoli perdagangan cengkih. Ternate (dengan Sultan Baabullah) berhasil mengusir Portugis pada 1575 dan menguasai wilayah luas. Tidore memihak Spanyol untuk menyeimbangkan Ternate yang bersekutu dengan Belanda. Persaingan ini dimanfaatkan bangsa Eropa untuk menguasai perdagangan rempah.
Moloku Kie Raha adalah empat kerajaan Islam utama di Maluku utara (Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo) yang menguasai perdagangan cengkih.
Pasangkan kerajaan dengan cirinya.
Gowa-Tallo dan Makassar
Di Sulawesi Selatan, dua kerajaan kembar โ Gowa dan Tallo โ bersekutu pada 1528 membentuk Kesultanan Makassar di bawah raja Tunipalangga. Makassar menjadi pelabuhan transit penting bagi pedagang dari Maluku, Jawa, dan Eropa. Puncak kejayaannya di bawah Sultan Hasanuddin (1653-1669), yang dijuluki โAyam Jantan dari Timurโ karena keberaniannya melawan VOC. Setelah Perang Makassar yang panjang, VOC berhasil menguasai Makassar lewat Perjanjian Bongaya (1667), yang membatasi kekuasaan Hasanuddin.
Lengkapi teks peran rempah-rempah.
Peta kerajaan timur
Lihat peta Maluku-Sulawesi sebagai bangun.
Bayangkan Maluku seperti tambang emas hijau โ emasnya cengkih yang dijual berlipat harga di Eropa. Bangsa Eropa datang bukan untuk tinggal, tapi untuk menguasai tambang. Ternate dan Tidore bersaing memperebutkan hak jual cengkih, dan Eropa memanfaatkan persaingan itu. Makassar di Sulawesi menjadi โpom bensinโ kapal dagang sebelum lanjut โ pendapatan melimpah, sehingga VOC iri dan ingin menguasainya.
Coba dulu di kertas, baru buka.
Soal. Mengapa VOC sangat ingin menguasai Makassar padahal Makassar bukan penghasil cengkih?
Makassar bukan penghasil cengkih, tetapi pelabuhan transit penting bagi kapal dagang dari Maluku ke Jawa dan Eropa. Banyak pedagang singgah di Makassar sehingga ia kaya.
VOC ingin memonopoli perdagangan rempah. Selama Makassar berdagang bebas dengan bangsa lain (Inggris, Denmark, lokal), monopoli VOC terganggu. VOC harus menguasai Makassar agar bisa mengontrol semua rempah yang lewat.
Setelah Perjanjian Bongaya 1667, Makassar kehilangan kekuasaan dan VOC menguasai monopoli rempah di Indonesia timur selama berabad-abad.
Jebakan: menyamakan Ternate dan Tidore karena sama-sama di Maluku. Yang benar: meskipun bertetangga dan sama-sama Islam, Ternate dan Tidore adalah saingan abadi. Ternate bersekutu dengan Belanda, Tidore dengan Spanyol. Persaingan mereka justru dimanfaatkan bangsa Eropa untuk menguasai perdagangan rempah.
Jebakan: menganggap Makassar penghasil cengkih. Yang benar: Makassar bukan penghasil cengkih โ cengkih dari Maluku. Makassar adalah pelabuhan transit yang penting bagi perdagangan rempah, sehingga kaya dan strategis. VOC menyerang Makassar bukan untuk cengkih, tapi untuk mengontrol jalur dagang.
- Moloku Kie Raha: Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo di Maluku utara.
- Ternate (Sultan Baabullah) usir Portugis 1575; Tidore bersekutu Spanyol.
- Gowa-Tallo bersatu jadi Kesultanan Makassar; puncak di Sultan Hasanuddin.
- Cengkih komoditas diburu; bangsa Eropa berebut monopoli.
- Perjanjian Bongaya 1667 melemahkan Makassar, VOC kuasai rempah.