Langsung ke isi
Lyra
Kimia · Kelas 10 · Fase E · 7 menit baca

Tata Nama Senyawa: Ionik, Kovalen, Asam-Basa

Setelah ini kamu bisa menamai senyawa ionik, kovalen, dan asam-basa sesuai aturan IUPAC.

Di dapur, kamu mungkin menyebut “garam” dan “gula”. Tetapi di laboratorium, kimiawan memanggil “natrium klorida” dan “sukrosa”. Mengapa begitu detail? Karena setiap nama yang tepat memberitahu persis atom-atom penyusunnya — bukan sekadar rasa. Aturan IUPAC adalah kamus universal yang membuat kimiawan di seluruh dunia bicara bahasa yang sama. Coba pilah jenis senyawa di bawah.

Seret tiap senyawa ke kelompok yang benar (Ionik atau Kovalen), lalu tekan Periksa.

Senyawa ionik

Senyawa ionik terbentuk dari kation (logam) dan anion (nonlogam). Aturan IUPAC: namai kation dulu, lalu anion dengan akhiran “-ida”. Kation logam golongan utama tidak perlu bilangan oksidasi, tetapi logam transisi yang punya beberapa muatan perlu bilangan oksidasi Romawi. Contoh: NaCl = natrium klorida; Fe₂O₃ = besi(III) oksida; FeO = besi(II) oksida.

Senyawa ionik disusun kation logam dan anion nonlogam, dinamai “kation + anion-ida”. Bila logam punya beberapa muatan (logam transisi), muatannya ditulis sebagai bilangan Romawi dalam kurung.

Pasangkan formula ionik dengan namanya.

Senyawa kovalen

Senyawa kovalen terbentuk dari dua nonlogam. Aturan: pakai awalan Yunani untuk menyatakan jumlah atom tiap unsur — mono (1), di (2), tri (3), tetra (4), penta (5). Unsur yang lebih elektronegatif ditulis belakang dengan akhiran “-ida”. Awalan “mono” biasanya dihilangkan pada unsur pertama. Contoh: CO₂ = karbon dioksida; CO = karbon monoksida; N₂O₄ = dinitrogen tetroksida.

Pasangkan formula kovalen dengan namanya.

Awalan kovalen dan asam-basa

Mengingat awalan adalah kunci senyawa kovalen. Pilah awalan ke jumlah atomnya.

Untuk asam: bila terlarut dalam air, H + anion menjadi asam. HCl(aq) = asam klorida; H₂SO₄ = asam sulfat; HNO₃ = asam nitrat. Untuk basa: hidroksida logam dinamai “logam + hidroksida”, mis. NaOH = natrium hidroksida, Ca(OH)₂ = kalsium hidroksida.

Bayangkan nama IUPAC seperti alamat rumah. “Natrium klorida” memberitamu: ada natrium (kation, di depan), ada klor (anion, di belakang dengan akhiran -ida). “Besi(III)” seperti lantai 3 — memberitahu muatan besi yang bisa berbeda-beda. Tanpa nama yang konsisten, kimiawan di Indonesia dan Jerman akan menyebut zat yang sama dengan dua nama berbeda.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Tentukan nama IUPAC untuk senyawa Cu₂O.

Cu adalah logam transisi, O adalah nonlogam → senyawa ionik. Oksigen memiliki muatan −2.

Total muatan harus nol. Dua Cu harus menetralkan −2 dari satu O, jadi tiap Cu bermuatan +1 → Cu(I).

Nama: tembaga(I) oksida (atau kuprum(I) oksida).

Jebakan: mencampur “klorida” (ion Cl⁻), “klorat” (ClO₃⁻), dan “klorit” (ClO₂⁻). Yang benar: akhiran “-ida” untuk ion sederhana (Cl⁻ = klorida); “klorat”, “klorit”, “hipoklorit”, “perklorat” untuk ion oksi yang berbeda susunan oksigennya.

Jebakan: melupakan bilangan Romawi pada logam transisi. Yang benar: Fe bisa +2 atau +3, jadi namanya harus besi(II) atau besi(III). Tanpa Romawi, nama itu ambigu — FeO dan Fe₂O₃ akan kelihatan sama.

  • Ionik: kation + anion(-ida); logam transisi pakai bilangan Romawi.
  • Kovalen: dua nonlogam; awalan mono, di, tri, tetra, penta.
  • Mono biasanya dihilangkan pada unsur pertama.
  • Asam: H + anion terlarut; mis. HCl(aq) = asam klorida.
  • Basa: logam + hidroksida; mis. NaOH = natrium hidroksida.