Langsung ke isi
Lyra
Geografi ยท Kelas 11โ€“12 ยท Fase F ยท 7 menit baca

Sumber Daya Alam: Konsep & Klasifikasi

Setelah ini kamu bisa memahami konsep SDA dan klasifikasinya (hayati-tak hayati, terbarukan-tidak terbarukan).

Pohon di hewan adalah SDA, demikian juga batu bara di perut bumi. Tapi keduanya berbeda: pohon bisa tumbuh lagi, batu bara tidak. Sumber daya alam (SDA) dapat dikelompokkan berdasarkan asal dan keberlanjutannya. Klasifikasi ini menentukan cara kita mengelola: bisa diperbarui atau harus dihemat. Bagaimana membedakannya? Coba lihat sendiri di bawah.

Baca tiap SDA, lalu pilah ke jenisnya.

Apa itu SDA

Sumber daya alam (SDA) adalah segala unsur lingkungan fisik yang dapat dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan. SDA dapat berupa tanah, air, mineral, hutan, ikan, atau energi. Yang membuat sesuatu disebut SDA adalah kegunaannya bagi manusia: batu di gunung menjadi SDA ketika dimanfaatkan untuk bangunan. Pemahaman konsep SDA penting untuk pengelolaan yang bertanggung jawab.

Sumber daya alam (SDA) adalah segala unsur lingkungan fisik (tanah, air, mineral, hutan, energi) yang dapat dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan, dan dikelompokkan berdasarkan asal (hayati-tak hayati) serta keberlanjutan (terbarukan-tidak).

Klasifikasi keberlanjutan

Selain asal, SDA dikelompokkan berdasarkan keberlanjutan. SDA terbarukan dapat pulih dalam waktu relatif singkat: hutan yang ditanam ulang, ikan yang berkembang biak, sinar matahari, air. SDA tidak terbarukan tidak dapat pulih dalam skala manusia: minyak bumi, batu bara, gas alam, logam. Klasifikasi ini menentukan strategi: SDA terbarukan dikelola agar pulih, SDA tidak terbarukan dihemat dan didaur ulang.

Ciri SDA terbarukan

SDA terbarukan memiliki ciri khas: dapat pulih secara alami dalam waktu relatif singkat, tergantung pada siklus (air, karbon), dan dapat dimanfaatkan terus jika dikelola. Tetapi ia tetap bisa habis bila dieksploitasi melebihi laju pulih: hutan ditebang lebih cepat dari tumbuh, ikan ditangkap lebih cepat dari berkembang biak. Kamu perlu menandai ciri ini agar dapat memilih strategi pengelolaan.

Langkah klasifikasi SDA

Mengklasifikasi SDA mengikuti langkah berjenjang. Pertama, tentukan apakah SDA berasal dari makhluk hidup (hayati) atau benda mati (tak hayati). Kedua, lihat apakah dapat pulih cepat (terbarukan) atau tidak. Ketiga, pertimbangkan keterhubungan dengan ekosistem. Keempat, pilih strategi pengelolaan sesuai klasifikasi. Langkah ini mengubah SDA menjadi objek yang dapat dikelola.

Bayangkan SDA seperti rekening bank. SDA terbarukan adalah bunga yang mengalir tiap bulan: kamu boleh memakai bunganya, asal pokoknya tetap utuh. SDA tidak terbarukan adalah tabungan tetap: sekali diambil, berkurang; jika boros, habis. Klasifikasi ini menentukan apakah kamu hidup dari bunga atau memakan tabungan.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Sebuah komunitas mengandalkan ikan laut untuk mata pencaharian. Bagaimana strategi agar SDA tersebut tetap tersedia?

Ikan adalah SDA hayati dan terbarukan: berkembang biak setiap musim. Tetapi ia dapat habis bila ditangkap melebihi laju reproduksi.

Karena ikan terbarukan, strateginya adalah menangkap secukupnya (kuota), menjaga musim pemijahan, dan melindungi habitat terumbu. Bila dikelola dengan laju pulih, ikan tetap tersedia untuk generasi mendatang.

Jebakan: menganggap SDA terbarukan tidak akan habis. Yang benar: SDA terbarukan tetap bisa habis bila dieksploitasi melebihi laju pulihnya (hutan ditebang lebih cepat dari tumbuh, ikan ditangkap lebih cepat dari berkembang biak).

Jebakan: menyamakan SDA hayati dengan terbarukan. Yang benar: ada SDA hayati yang tetap bisa tidak terbarukan bila populasinya terancam punah; sebaliknya sinar matahari adalah tak hayati tetapi terbarukan.

  • SDA = unsur lingkungan fisik yang dapat dimanfaatkan manusia.
  • Asal: hayati (makhluk hidup) atau tak hayati (benda mati).
  • Keberlanjutan: terbarukan (pulih cepat) atau tidak terbarukan (tidak pulih).
  • SDA terbarukan tetap bisa habis bila dieksploitasi melebihi laju pulih.
  • Strategi: terbarukan dikelola agar pulih, tidak terbarukan dihemat-daur ulang.