Klasifikasi Iklim: Köppen, Schmidt-Ferguson, Oldeman
Setelah ini kamu bisa membedakan tiga sistem klasifikasi iklim (Köppen, Schmidt-Ferguson, Oldeman) dan menjelaskan kapan masing-masing cocok dipakai untuk Indonesia.
Indonesia disebut beriklim tropis, tetapi tahukah kamu bahwa Bogor, Medan, dan Jayapura punya klasifikasi iklim berbeda? Untuk membedakan, ilmuwan memakai sistem klasifikasi yang berbeda — Köppen untuk iklim global, Schmidt-Ferguson untuk bulan basah-kering di Indonesia, Oldeman untuk pertanian. Coba pilah sendiri ciri tiap klasifikasi di bawah.
Tiga sistem klasifikasi iklim
Klasifikasi iklim adalah cara mengelompokkan daerah berdasarkan pola suhu dan curah hujan. Tiga sistem lazim dipakai di Indonesia. Köppen (Wladimir Köppen) mengelompokkan iklim global berdasarkan suhu dan curah hujan menjadi lima kelompok utama (A-E). Schmidt-Ferguson memakai rasio bulan basah/kering (Q) untuk membedakan iklim di Indonesia. Oldeman memakai jumlah bulan basah dan kering untuk zonasi pertanian.
Klasifikasi iklim adalah sistem pengelompokan daerah berdasarkan pola unsur cuaca rata-rata (terutama suhu dan curah hujan). Tiga sistem utama: Köppen (global), Schmidt-Ferguson (basah-kering Indonesia), Oldeman (pertanian).
Tidak ada sistem “terbaik” mutlak. Pemilihan sistem bergantung tujuan: untuk iklim global pakai Köppen; untuk klasifikasi basah-kering di Indonesia pakai Schmidt-Ferguson; untuk perencanaan tanam pakai Oldeman.
Sistem Köppen
Köppen membagi iklim global menjadi lima kelompok utama: A (tropis, suhu bulan terdingin >18°C), B (gersang, kering), C (sedang/iklim lautan), D (kontinental lembap dingin), E (kutub/polar). Indonesia hampir seluruhnya berada di tipe A (tropis basah) karena suhu bulan terdingin di atas 18°C dan curah hujan tinggi sepanjang tahun.
Schmidt-Ferguson untuk Indonesia
Schmidt-Ferguson mengelompokkan iklim Indonesia berdasarkan rasio Q = jumlah bulan kering ÷ jumlah bulan basah. Bulan basah = curah hujan >100 mm; bulan kering = <60 mm. Nilai Q membagi Indonesia menjadi delapan tipe (A hingga H), dari sangat basah (A) hingga sangat kering (H). Sistem ini cocok karena menangkap pola basah-kering yang khas Indonesia.
Oldeman untuk pertanian
Oldeman memakai klasifikasi berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut, untuk merencanakan pola tanam. Sistem ini menjawab pertanyaan praktis: berapa kali dalam setahun petani bisa menanam padi? Jawabannya bergantung jumlah bulan basah berturut-turut (untuk padi sawah) atau kombinasi basah-kering (untuk palawija). Oldeman membagi Indonesia menjadi zona-zona agroklimat untuk panduan tanam.
Bayangkan tiga klasifikasi seperti tiga kacamata berbeda. Köppen adalah kacamata global — untuk melihat Indonesia di peta dunia. Schmidt-Ferguson adalah kacamata lokal — untuk membedakan Bogor dengan Kupang. Oldeman adalah kacamata petani — untuk menentukan kapan menanam padi.
Mengenali ciri iklim tropis Indonesia
Karena Indonesia didominasi iklim tropis, kamu perlu mengenali ciri yang benar-benar khas tropis Indonesia. Beberapa pernyataan menggambarkan tropis basah, beberapa menggambarkan tipe lain — kamu harus memilih dengan tepat.
Jebakan: menyimpulkan Köppen tidak cocok untuk Indonesia. Yang benar: Köppen cocok untuk gambaran besar — seluruh Indonesia hampir tipe A (tropis). Tetapi untuk detail basah-kering internal, Schmidt-Ferguson atau Oldeman lebih tajam.
Coba dulu di kertas, baru buka.
Soal. Sebuah daerah di Indonesia memiliki 8 bulan basah (>100 mm), 2 bulan lembap (60-100 mm), dan 2 bulan kering (<60 mm). Klasifikasikan menurut Schmidt-Ferguson dan jelaskan implikasinya.
Rasio Q = bulan kering ÷ bulan basah = 2 ÷ 8 = 0,25.
Q = 0,25 masuk tipe A (sangat basah) menurut Schmidt-Ferguson. Daerah seperti ini cocok untuk padi sawah dengan dua kali tanam per tahun, sesuai panduan Oldeman yang melihat jumlah bulan basah berturut-turut.
Jebakan: menyamakan bulan lembap dengan bulan basah. Yang benar: bulan basah = curah hujan >100 mm; bulan lembap = 60-100 mm; bulan kering = <60 mm — tiga kategori berbeda yang dipakai Schmidt-Ferguson dan Oldeman.
Jebakan: menganggap Oldeman hanya untuk padi. Yang benar: Oldeman juga menentukan pola tanam palawija (jagung, kedelai) berdasarkan kombinasi bulan basah-kering, bukan hanya padi sawah.
- Köppen: klasifikasi iklim global lima kelompok A-E; Indonesia tipe A.
- Schmidt-Ferguson: rasio Q basah/kering, delapan tipe A-H untuk Indonesia.
- Oldeman: jumlah bulan basah berturut-turut untuk perencanaan pola tanam.
- Bulan basah >100 mm, lembap 60-100 mm, kering <60 mm.
- Pemilihan sistem bergantung tujuan: global, lokal Indonesia, atau pertanian.