Langsung ke isi
Lyra
Fisika · Kelas 11–12 · Fase F · 8 menit baca

Relativitas Newton vs Postulat Einstein

Setelah ini kamu bisa membandingkan penjumlahan kecepatan Galileo-Newton dengan rumus relativistik Einstein dan menjelaskan konsekuensi postulat kekonstanan kelajuan cahaya.

Bayangkan kamu berdiri di peron melihat kereta melaju 100 km/jam, dan seorang penumpang di atap kereta melempar bola 50 km/jam ke depan. Berapa cepat bola menurutmu? Jawaban intuitif jelas 150 km/jam — itulah relativitas Galileo-Newton yang bekerja sempurna untuk benda lambat. Tapi pada 1905 Einstein mengajukan gagasan radikal: kalau yang dilempar adalah berkas cahaya, kelajuannya tetap c, bukan c tambah 100. Kelajuan cahaya tidak bisa ditambah atau dikurangi oleh gerak sumbernya. Geser slider kelajuan kereta di bawah dan saksikan dunia Newton dan Einstein mulai berpisah jalan saat mendekati cahaya.

Geser slider kelajuan kereta dan amati kecepatan total bola naik linier tanpa batas menurut Newton.

Relativitas Galileo-Newton: kecepatan berjumlah biasa

Selama dua abad, fisika menganggap ruang dan waktu bersifat absolut — sama bagi semua pengamat. Dalam kerangka ini, kecepatan benda yang dilempar dari kendaraan bergerak dijumlahkan secara biasa: bila kereta melaju kelajuan vv dan penumpang melempar bola kelajuan uu ke depan, pengamat di peron melihat bola bergerak kelajuan u′=u+vu' = u + v. Inilah transformasi Galileo, yang bekerja sempurna untuk kereta, mobil, dan pesawat jet sehari-hari. Tidak ada batas atas — secara teori benda bisa melaju secepat apa pun asal terus didorong.

Relativitas Galileo-Newton adalah kerangka transformasi kecepatan klasik yang menyatakan ruang dan waktu bersifat absolut bagi semua pengamat, dan kecepatan benda dari kendaraan bergerak berjumlah linier: u′=u+vu' = u + v.

Duduk di kereta yang melaju mulus, kamu bisa menuang teh tanpa sadar kereta bergerak — di dalam kereta, hukum fisika berjalan seperti di rumah. Inilah inti relativitas Galileo: kerangka inersial (gerak lurus beraturan) semuanya setara, tidak ada yang “lebih diam”. Masalah muncul saat kamu menerapkan ide yang sama pada cahaya.

Anomali cahaya: percobaan Michelson-Morley

Akhir abad ke-19, para fisikawan berasumsi cahaya merambat lewat medium “eter” seperti suara lewat udara. Bila Bumi bergerak melalui eter, kelajuan cahaya yang diukur dari Bumi seharusnya berbeda di arah sejajar vs tegak lurus gerak Bumi. Percobaan Michelson-Morley (1887) berulang kali gagal menemukan perbedaan itu — kelajuan cahaya selalu sama, apa pun arah dan apa pun gerak Bumi. Inilah yang memaksa Einstein merombak seluruh gagasan tentang ruang dan waktu.

Dua postulat Einstein

Tahun 1905, Einstein membangun relativitas khusus dari dua postulat sederhana namun radikal. Pertama, hukum fisika sama di semua kerangka inersial (relativitas Galileo diperluas). Kedua — yang benar-benar mengguncang — kelajuan cahaya cc di ruang hampa sama bagi semua pengamat, tak bergantung kelajuan sumber maupun pengamat. Konsekuensi postulat kedua ini menjungkalkan gagasan waktu dan ruang yang absolut. Bila cc sama untuk semua, maka selang waktu dan panjang benda harus berbeda antar pengamat — yang kamu pelajari di artikel dilatasi waktu dan kontraksi panjang.

Postulat 1: hukum fisika sama di semua kerangka inersial\text{Postulat 1: hukum fisika sama di semua kerangka inersial} Postulat 2: c=3,0×108 m/s sama bagi semua pengamat\text{Postulat 2: } c = 3{,}0 \times 10^8 \text{ m/s sama bagi semua pengamat}

Arti tiap simbol: cc = kelajuan cahaya di ruang hampa (m/s). Konsekuensi: penjumlahan kecepatan klasik u′=u+vu' = u + v hanya pendekatan baik untuk v≪cv \ll c. Untuk kelajuan mendekati cc, harus dipakai rumus relativistik yang menjaga cc sebagai batas mutlak.

Grafik di bawah memperlihatkan kontras langsung antara prediksi Newton (cahaya dari kereta bergerak akan tampak lebih cepat dari cc) dan Einstein (cahaya tetap cc). Garis Newton melesat melebihi 1 (melampaui cc), sedangkan garis Einstein tetap datar di 1 — inilah inti postulat kedua.

Rumus penjumlahan relativistik: c sebagai batas

Untuk menjaga cc tetap konstan, Einstein menurunkan rumus penjumlahan kecepatan baru: u′=u+v1+uv/c2u' = \frac{u + v}{1 + uv/c^2}. Penyebut 1+uv/c21 + uv/c^2 inilah yang “meredam” penjumlahan klasik. Untuk u,v≪cu, v \ll c, penyebut ≈1\approx 1 sehingga rumus kembali ke u+vu + v (Newton). Tapi saat uu atau vv mendekati cc, penyebut membesar dan menjaga u′u' selalu di bawah cc. Bahkan bila kereta melaju 0,9c0{,}9c dan bola dilempar 0,9c0{,}9c, hasilnya bukan 1,8c1{,}8c melainkan 0,9+0,91+0,81≈0,994c\frac{0{,}9 + 0{,}9}{1 + 0{,}81} \approx 0{,}994c — tetap di bawah cc.

u′=u+v1+uv/c2u' = \frac{u + v}{1 + uv/c^2}

Arti tiap simbol: u′u' = kecepatan benda menurut pengamat di peron (m/s), uu = kecepatan benda menurut penumpang di kereta (m/s), vv = kelajuan kereta relatif peron (m/s), c=3,0×108c = 3{,}0 \times 10^8 m/s. Untuk u,v≪cu, v \ll c: penyebut ≈1\approx 1 → u′≈u+vu' \approx u + v (Newton). Untuk uu atau v→cv \to c: penyebut →∞\to \infty-relatif, u′→cu' \to c namun tak pernah melampauinya.

Grafik di bawah membandingkan prediksi Newton (garis naik tanpa batas) dengan prediksi Einstein (kurva melengkung mendekati asimtot cc). Keduanya nyaris berimpit untuk vv kecil, lalu berpisah drastis saat mendekati cc.

Grafik di bawah menunjukkan besar selisih antara prediksi Newton dan Einstein. Untuk vv kecil (dunia sehari-hari), selisih nyaris nol — relativitas khusus tak terasa. Saat vv mendekati cc, selisih meledak ke tak hingga, menandai daerah Newton gagal total.

Walaupun relativitas tidak masuk cakupan resmi TKA Fisika (kelistrikan TKA terbatas statis + arus searah), relativitas Newton vs Einstein adalah materi wajib ujian sekolah kelas 12 dan pintu masuk olimpiade. Tip soal lazim: (1) hitung u′u' dengan rumus relativistik dari uu dan vv; (2) verifikasi hasil selalu <c< c; (3) tunjukkan untuk u,v≪cu, v \ll c, rumus kembali ke u+vu + v. Jebakan klasik: menerapkan u+vu + v pada cahaya atau pada benda berkelajuan relativistik — hasilnya melampaui cc yang mustahil.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Sebuah kereta luar angkasa melaju v=0,80cv = 0{,}80c relatif bumi. Sebuah roket dilempar dari depan kereta dengan kelajuan u=0,60cu = 0{,}60c menurut awak kereta, searah gerak kereta. (a) Berapa kelajuan roket menurut pengamat bumi menurut Newton? (b) Berapa menurut Einstein? (c) Apakah hasil Einstein selalu di bawah cc?

Menurut Newton: u′=u+v=0,60c+0,80c=1,40cu' = u + v = 0{,}60c + 0{,}80c = 1{,}40c. Hasil ini melampaui cc, mustahil karena tak ada benda yang bisa lebih cepat dari cahaya. Ini menandai kegagalan relativitas Galileo pada kelajuan relativistik.

u′=u+v1+uv/c2=0,60c+0,80c1+(0,60)(0,80)=1,40c1+0,48=1,40c1,48≈0,946cu' = \dfrac{u + v}{1 + uv/c^2} = \dfrac{0{,}60c + 0{,}80c}{1 + (0{,}60)(0{,}80)} = \dfrac{1{,}40c}{1 + 0{,}48} = \dfrac{1{,}40c}{1{,}48} \approx 0{,}946c. Hasilnya tetap di bawah cc.

0,946c<c0{,}946c < c — Einstein menjamin kelajuan gabungan tak pernah melampaui cc. Selisih dengan Newton: 1,40c−0,946c=0,454c1{,}40c - 0{,}946c = 0{,}454c (Newton melebihkan hampir 50 persen). Prediksi Newton 1,40 c (mustahil), prediksi Einstein 0,946 c (benar, di bawah c).

Jebakan: menerapkan u+vu + v pada cahaya atau benda berkelajuan relativistik. Yang benar: penjumlahan klasik u+vu + v hanya pendekatan baik untuk u,v≪cu, v \ll c. Untuk cahaya, gunakan postulat Einstein (cc selalu konstan). Untuk benda berkelajuan relativistik, gunakan rumus u′=(u+v)/(1+uv/c2)u' = (u + v)/(1 + uv/c^2) yang menjamin hasil tetap di bawah cc.

Jebakan: menyimpulkan postulat Einstein melanggar hukum Newton secara mutlak. Yang benar: relativitas Einstein mencakup relativitas Newton sebagai kasus khusus untuk kelajuan rendah. Untuk v≪cv \ll c, rumus relativistik →u+v\to u + v dan semua hukum Newton kembali berlaku persis. Einstein tidak membantah Newton — ia memperluasnya ke daerah kelajuan tinggi yang tak terjangkau Newton.

Jebakan: bingung mengapa kereta dan bola bisa dijumlah biasa tapi cahaya tidak. Yang benar: keduanya sebenarnya memakai rumus yang sama (u′=(u+v)/(1+uv/c2)u' = (u+v)/(1+uv/c^2)). Untuk kereta dan bola (kelajuan jauh di bawah cc), penyebut ≈1\approx 1 sehingga rumus terlihat seperti u+vu + v. Untuk cahaya, u=cu = c membuat penyebut →1+v/c\to 1 + v/c, sehingga hasilnya tetap cc. Tidak ada pengecualian — cuma beda orde kelajuan.

  • Relativitas Galileo-Newton: kecepatan berjumlah linier u′=u+vu' = u + v (akurat untuk v≪cv \ll c).
  • Postulat Einstein: c=3,0×108c = 3{,}0 \times 10^8 m/s sama bagi semua pengamat, tak bergantung gerak sumber.
  • Rumus penjumlahan relativistik: u′=(u+v)/(1+uv/c2)u' = (u + v)/(1 + uv/c^2) — menjamin hasil selalu <c< c.
  • Untuk kelajuan rendah, rumus Einstein kembali ke u+vu + v (Newton bukan salah, cuma kasus khusus).
  • Percobaan Michelson-Morley membantah eter dan memaksa kerombakan gagasan ruang-waktu absolut.