Langsung ke isi
Lyra
Fisika · Kelas 11–12 · Fase F · 8 menit baca TKA

Fluida Ideal & Asas Kontinuitas

Setelah ini kamu bisa menerapkan asas kontinuitas A1v1=A2v2A_1 v_1 = A_2 v_2 untuk menghitung laju alir di pipa yang menyempit atau melebar.

Pegang ujung selang taman, lalu cubit sebagian lubangnya dengan jari. Air yang tadinya keluar pelan tiba-tiba memancar jauh dan kencang. Kenapa? Bukan karena air “didorong” lebih kuat — pompa tetap sama. Yang berubah hanyalah luas lubangnya: makin sempit, makin cepat air keluar. Inilah inti asas kontinuitas: fluida yang menyempit terpaksa melaju lebih kencang agar jumlah air yang lewat per detik tetap sama. Geser slider debit di bawah dan saksikan kurva laju alir yang naik-turun mengikuti luas.

Geser slider debit, lalu amati kurva laju alir yang berbanding terbalik dengan luas penampang.

Fluida ideal: empat asumsi

Sebelum bicara kontinuitas, kita perlu menyepakati model fluida yang dipakai. Asas kontinuitas (dan nanti asas Bernoulli) berlaku untuk fluida ideal — penyederhanaan yang membuat rumus bersih dan bisa dihitung.

Fluida ideal adalah model fluida yang (1) tidak termampatkan — massa jenisnya tetap sepanjang aliran, (2) tidak viskos — tak ada gesekan dalam, (3) mengalir stasioner — kecepatan di tiap titik tak berubah terhadap waktu, dan (4) mengalir tanpa pusaran (aliran irrotasional).

Air yang mengalir tenang di pipa rumah hampir memenuhi empat syarat itu — tak termampat (air tak bisa “diperas” menjadi lebih padat), gesekannya kecil di pipa pendek, kecepatannya stabil, dan tak berputar. Maka air di pipa cukup akurat diperlakukan sebagai fluida ideal. Madu kental atau aliran sungai berputar, tidak.

Di dunia nyata tak ada fluida ideal sempurna — selalu ada sedikit gesekan dan sedikit pemampatan. Tapi untuk pipa pendek dan aliran lancar, model ini memberi ramalan yang sangat dekat kenyataan, dan inilah pondasi seluruh fluida dinamis.

Debit: volume per satuan waktu

Berapa banyak fluida yang lewat sebuah penampang tiap sekon? Itulah debit QQ. Bayangkan air mengalir di pipa berluas AA dengan laju vv. Dalam waktu satu sekon, kolom air sepanjang vv meter lewat penampang — volumenya A⋅vA \cdot v. Jadi debit adalah perkalian keduanya.

Q=A⋅vQ = A \cdot v

Arti tiap simbol: QQ = debit (volume per satuan waktu, m³/s), AA = luas penampang pipa (m²), vv = laju alir fluida (m/s). Bila fluida tak termampatkan dan tak ada kebocoran, debit sama di setiap penampang sepanjang pipa.

Bayangkan keran terbuka penuh. Kalau kamu isi ember 10 liter dalam 50 sekon, debit keranmu = 10 liter ÷ 50 sekon = 0,2 liter/sekon = 2×10−42 \times 10^{-4} m³/s. Debit menjawab pertanyaan “berapa cepat ember terisi?” — bukan “berapa cepat air mengalir di dalam pipa” (itu laju vv).

Asas kontinuitas: debit kekal

Inilah inti artikel ini. Karena fluida ideal tak termampatkan dan tak ada kebocoran, debit fluida yang masuk sebuah pipa sama dengan debit yang keluar. Volume per satuan waktu kekal sepanjang aliran. Maka untuk dua titik di sepanjang pipa:

A1 v1=A2 v2A_1\,v_1 = A_2\,v_2

Arti tiap simbol: A1,A2A_1, A_2 = luas penampang di titik 1 dan 2 (m²), v1,v2v_1, v_2 = laju alir di titik 1 dan 2 (m/s). Pipa menyempit (A2A_2 kecil) memaksa v2v_2 membesar agar debit tetap; pipa melebar sebaliknya.

Inilah yang menjelaskan cubitan selang taman: luas lubang mengecil dari A1A_1 ke A2A_2, sehingga laju melonjak dari v1v_1 ke v2v_2 yang lebih besar. Jumlah air per sekon tetap sama — pompa tidak bekerja lebih keras — tapi air terkonsentrasi ke lubang yang lebih sempit, sehingga kecepatannya naik. Pada grafik di bawah, dua titik penanda pada dua luas berbeda memperlihatkan bagaimana A⋅vA \cdot v selalu sama meski AA dan vv masing-masing berbeda.

Debit konstan di sepanjang pipa

Untuk memvisualkan kekalannya, bayangkan sebuah pipa yang lebarnya berubah-ubah sepanjang lintasan. Di setiap titik, produk A⋅vA \cdot v harus sama. Pada grafik di bawah, kurva horizontal datar pada nilai QQ — tak peduli di mana kamu berdiri di sepanjang pipa, debit selalu sama besar. Inilah pernyataan geometris dari kekalannya volume.

Debit massa: massa per satuan waktu

Untuk fluida tak termampatkan, debit volume Q=AvQ = A v sudah cukup. Tapi kadang kita ingin tahu berapa massa yang lewat per sekon — debit massa. Karena massa jenis ρ\rho menghubungkan massa dan volume (m=ρVm = \rho V), debit massa adalah debit volume dikali massa jenis.

m˙=ρ⋅A⋅v\dot{m} = \rho \cdot A \cdot v

Arti tiap simbol: m˙\dot{m} = debit massa (kg/s), ρ\rho = massa jenis fluida (kg/m³), AA = luas penampang (m²), vv = laju alir (m/s). Untuk fluida tak termampatkan, ρ\rho sama di mana-mana, sehingga debit massa juga kekal sepanjang pipa.

Debit massa penting saat fluida nyaris termampatkan (gas) atau saat kita ingin tahu berapa bahan bakar terpakai per sekon. Pada grafik di bawah, geser slider massa jenis dan amati debit massa naik linier — fluida lebih rapat (raksa) menghasilkan debit massa lebih besar untuk debit volume yang sama.

Topik asas kontinuitas termasuk unit fluida dinamis, cakupan kerangka TKA 045/H/AN/2025 elemen fluida. Tiga jenis soal paling sering: (1) menghitung v2=(A1/A2)v1v_2 = (A_1/A_2)v_1 pada pipa menyempit/melebar, (2) menghitung debit Q=AvQ = Av dan waktu mengisi tabung, dan (3) menjelaskan kenapa laju alir berbanding terbalik dengan luas. Jebakan klasik: menyangka debit dan laju itu hal yang sama — debit adalah volume per sekon, laju adalah meter per sekon.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Air mengalir dalam pipa yang menyempit. Di titik 1 luas penampang A1=0,02A_1 = 0{,}02 m² dan laju alirnya v1=1,5v_1 = 1{,}5 m/s. Di titik 2 luas menyempit menjadi A2=0,005A_2 = 0{,}005 m². (a) Berapa debit airnya? (b) Berapa laju alir di titik 2?

Q=A1v1=0,02×1,5=0,03Q = A_1 v_1 = 0{,}02 \times 1{,}5 = 0{,}03 m³/s. Karena fluida tak termampatkan, debit ini sama di titik 2.

A1v1=A2v2⇒v2=(A1/A2)v1=(0,02/0,005)×1,5=4×1,5=6A_1 v_1 = A_2 v_2 \Rightarrow v_2 = (A_1/A_2) v_1 = (0{,}02 / 0{,}005) \times 1{,}5 = 4 \times 1{,}5 = 6 m/s. Pipa menyempit seperempatnya, laju naik empat kali lipat.

Cek silang: Q2=A2v2=0,005×6=0,03Q_2 = A_2 v_2 = 0{,}005 \times 6 = 0{,}03 m³/s — sama persis dengan Q1Q_1. Asas kontinuitas terpenuhi: debit kekal, laju bergantung luas.

Jebakan: menyamakan “debit” dengan “laju alir”. Yang benar: debit QQ = volume per sekon (m³/s), sedangkan laju alir vv = jarak per sekon (m/s). Pipa sempit menaikkan vv tetapi QQ tetap — debit tidak berubah.

Jebakan: menerapkan kontinuitas pada fluida yang termampatkan (gas bertekanan tinggi) tanpa koreksi. Yang benar: A1v1=A2v2A_1 v_1 = A_2 v_2 mengasumsikan fluida tak termampatkan. Untuk gas yang massa jenisnya berubah, gunakan debit massa ρ1A1v1=ρ2A2v2\rho_1 A_1 v_1 = \rho_2 A_2 v_2.

Jebakan: lupa mengubah satuan luas atau volume sebelum hitung. Yang benar: debit SI m³/s butuh AA dalam m² (bukan cm²) dan vv dalam m/s. Luas pipa jari-jari 1 cm = π(0,01)2=3,14×10−4\pi(0{,}01)^2 = 3{,}14 \times 10^{-4} m², bukan 3,143{,}14.

  • Fluida ideal: tak termampat, tak viskos, stasioner, irrotasional.
  • Debit: Q=A⋅vQ = A \cdot v — volume fluida per sekon (m³/s).
  • Asas kontinuitas: A1v1=A2v2A_1 v_1 = A_2 v_2 — debit kekal; pipa sempit mempercepat.
  • Pipa menyempit sepertiga luas → laju tiga kali lipat; debit tetap.
  • Debit massa m˙=ρAv\dot{m} = \rho A v — penting untuk fluida termampat (gas).