Ekspor, Impor & Neraca Perdagangan
Setelah ini kamu bisa menghitung ekspor, impor, dan neraca perdagangan untuk menentukan apakah suatu negara mengalami surplus atau defisit.
Indonesia menjual batu bara ke China dan membeli mesin dari Jerman. Penjualan ke luar negeri disebut ekspor, pembelian dari luar negeri disebut impor. Selisih keduanya adalah neraca perdagangan. Bila ekspor lebih besar, negara surplus. Bila impor lebih besar, negara defisit. Angka ini menjadi indikator penting kesehatan ekonomi suatu negara. Bagaimana cara menghitungnya? Coba pilah di bawah.
Ekspor, impor, dan neraca
Ekspor adalah penjualan barang dan jasa ke luar negeri. Impor adalah pembelian barang dan jasa dari luar negeri. Neraca perdagangan adalah selisih nilai ekspor dan impor barang dalam suatu periode. Bila ekspor lebih besar dari impor, neraca surplus. Bila impor lebih besar, neraca defisit.
Neraca perdagangan = nilai ekspor โ nilai impor. Surplus perdagangan terjadi bila ekspor > impor. Defisit perdagangan terjadi bila impor > ekspor.
Pasangkan istilah neraca dengan artinya.
Menghitung neraca perdagangan
Rumusnya sederhana: neraca = ekspor โ impor. Hasil positif berarti surplus, hasil negatif berarti defisit. Misalnya bila ekspor 200 miliar dolar dan impor 180 miliar dolar, neraca = 200 โ 180 = 20 miliar dolar (surplus). Sebaliknya bila ekspor 150 dan impor 190, neraca = โ40 miliar (defisit). Nilai yang dimaksud biasanya barang barang (goods); jasa dihitung terpisah di neraca lain.
Sorot ciri surplus perdagangan.
Implikasi surplus dan defisit
Surplus perdagangan umumnya dianggap baik karena devisa masuk lebih besar, mendukung nilai tukar dan cadangan devisa. Namun surplus yang terlalu lama bisa mengindikasikan konsumsi dalam negeri rendah. Defisit tidak selalu buruk bila impor berupa mesin atau bahan baku untuk membangun industri. Yang penting komposisi dan keberlanjutan neraca dijaga seimbang.
Susun langkah menghitung neraca perdagangan.
Bayangkan neraca perdagangan seperti dompet keluarga. Ekspor adalah gaji yang masuk dari pekerjaan, impor adalah pengeluaran belanja. Bila gaji lebih besar dari belanja, dompet surplus (tabungan tumbuh). Bila belanja lebih besar, dompet defisit (utang atau tabungan menipis). Negara menghitung neraca yang sama untuk tahu apakah ekonominya โmenghasilkanโ atau โmenghabiskanโ devisa.
Coba dulu di kertas, baru buka.
Soal. Suatu negara mengekspor senilai 150 miliar dolar dan mengimpor 180 miliar dolar. Hitung neraca perdagangannya.
Neraca = ekspor โ impor = 150 โ 180 = โ30 miliar dolar.
Hasil negatif โ negara mengalami defisit perdagangan sebesar 30 miliar dolar.
Jebakan: menganggap defisit selalu buruk. Yang benar: defisit bisa sehat bila impornya berupa barang modal (mesin, teknologi) yang membangun industri dalam jangka panjang. Yang perlu diwaspadai adalah defisit kronis yang dibiayai utang luar negeri dan menggerus cadangan devisa.
Jebakan: menyamakan neraca perdagangan dengan neraca pembayaran. Yang benar: neraca perdagangan hanya menghitung barang (goods). Neraca pembayaran mencakup juga jasa, pendapatan, dan transfer โ lebih luas. Defisit perdagangan belum tentu defisit neraca pembayaran bila surplus di jasa atau modal menutupinya.
- Ekspor = jual ke luar negeri; impor = beli dari luar.
- Neraca perdagangan = ekspor โ impor.
- Surplus bila ekspor > impor; defisit bila impor > ekspor.
- Surplus menambah devisa; defisit menggerus devisa.
- Komposisi dan keberlanjutan neraca perlu dijaga.