Anggaran: Defisit, Surplus & Seimbang
Setelah ini kamu bisa membedakan postur anggaran defisit, surplus, dan seimbang beserta implikasinya bagi utang publik.
Setiap tahun pemerintah menyusun APBN: berapa uang masuk (pajak) dan berapa uang keluar (belanja). Bila keluar lebih besar, anggaran defisit dan utang negara bertambah. Bila masuk lebih besar, surplus. Indonesia hampir selalu defisit dalam dua dekade terakhir โ bukan berarti gagal, tapi cara sengaja menopang pembangunan. Mengapa negara membiarkan dirinya defisit? Coba lihat sendiri di bawah.
Tiga postur anggaran
Postur anggaran ditentukan oleh selisih penerimaan dan pengeluaran negara. Anggaran surplus terjadi bila penerimaan lebih besar daripada pengeluaran โ kelebihan bisa ditabung atau dipakai melunasi utang. Anggaran defisit terjadi bila pengeluaran lebih besar daripada penerimaan โ kekurangan harus dipinjam (menerbitkan SBN, utang luar negeri). Anggaran seimbang terjadi bila penerimaan persis sama dengan pengeluaran. Indonesia lazim menarget defisit di bawah 3 persen PDB, sebagaimana diatur UU, dan membiayainya dengan menerbitkan Surat Berharga Negara.
Anggaran defisit adalah kondisi pengeluaran negara melebihi penerimaan dalam satu tahun anggaran; kekurangannya dibiayai lewat utang (SBN, pinjaman luar negeri).
Pasangkan postur anggaran dengan implikasinya.
Menghitung selisih anggaran
Selisih anggaran = penerimaan dikurangi pengeluaran. Bila hasil positif, surplus; negatif, defisit. Bila angka defisit dibandingkan dengan PDB, dihasilkan rasio defisit terhadap PDB โ ukuran yang lazim dipakai dan dibatasi undang-undang (di Indonesia maksimum 3 persen PDB). Begitu pula utang publik dibandingkan PDB untuk menilai keberlanjutan; ambang aman yang sering dirujuk 60 persen PDB.
Hitung selisih anggaran berseed.
Neraca anggaran: penerimaan vs pengeluaran
Lihat neraca anggaran sebagai bangun.
Bayangkan anggaran negara seperti dompet bulanan keluarga. Surplus artinya penghasilan lebih besar dari belanja, sisa bisa nabung atau nyicil utang. Defisit artinya belanja lebih besar, terpaksa berutang atau jual aset. Indonesia memang sengaja โngutang buat tambah modalโ โ utang dipakai membangun jalan dan jembatan, bukan sekadar konsumsi. Tapi utang berlebihan tetap berbahaya jika melampaui kemampuan bayar.
Coba dulu di kertas, baru buka.
Soal. Pada tahun anggaran, penerimaan negara Rp2.000 triliun dan pengeluaran Rp2.400 triliun. PDB Rp20.000 triliun. Tentukan postur anggaran dan rasio defisit terhadap PDB.
Selisih = 2.000 dikurangi 2.400 = negatif 400 triliun rupiah. Karena negatif, postur anggaran defisit.
Rasio = 400 dibagi 20.000 dikali 100 persen = 2 persen PDB.
Defisit 2 persen PDB masih di bawah ambang maksimum 3 persen menurut UU. Kekurangan 400 triliun dibiayai dengan menerbitkan SBN atau pinjaman lain.
Jebakan: menganggap defisit selalu buruk. Yang benar: defisit bisa sengaja dipakai untuk menopang pembangunan (jalan, sekolah, puskesmas) yang kelak menghasilkan pertumbuhan. Yang berbahaya adalah defisit kronis yang dipakai untuk konsumsi, bukan investasi, hingga utang menumpuk melampaui kemampuan bayar.
Jebakan: menyamakan defisit dengan utang. Yang benar: defisit adalah selisih tahunan (arus), sedangkan utang adalah akumulasi defisit dari tahun ke tahun (simpanan). Satu tahun defisit menambah tumpukan utang; surplus bisa mengurangi tumpukan itu.
- Surplus: penerimaan lebih besar pengeluaran; defisit: sebaliknya; seimbang: sama.
- Defisit dibiayai utang (SBN, pinjaman luar negeri).
- Rasio defisit maksimum 3 persen PDB; utang maksimum 60 persen PDB.
- Defisit tidak selalu buruk bila dipakai untuk investasi pembangunan.
- Surplus menurunkan utang; defisit menambah utang.