Langsung ke isi
Lyra
Bahasa Indonesia ยท Kelas 11โ€“12 ยท Fase F ยท 8 menit baca

Sudut Pandang: Siapa yang Bercerita?

Setelah ini kamu bisa membedakan sudut pandang orang pertama, orang ketiga mahatahu, dan orang ketiga pengamat dari kata ganti yang dipakai.

Dua penulis bisa menceritakan kejadian yang sama persis, tapi pembaca merasakan dua hal berbeda. Bedanya sering bukan pada apa yang diceritakan, melainkan siapa yang bercerita. Coba bandingkan sendiri di bawah.

Baca cuplikan itu, lalu klik semua kata ganti orang yang kamu temui.

Apa itu sudut pandang

Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam membawakan cerita. Dengan kata lain, kamu bertanya: siapakah yang berbicara di dalam teks? Jawabannya menentukan seberapa dekat pembaca dengan tokoh, seberapa banyak informasi yang bisa diakses, dan bagaimana peristiwa terasa. Inilah salah satu unsur intrinsik yang paling menentukan rasa sebuah cerita.

Kamu mengenali sudut pandang terutama dari kata ganti orang yang dipakai. Cerita orang pertama memakai aku, saya, kami, atau kita. Cerita orang ketiga memakai ia, dia, mereka, atau nama tokoh. Pola kata ganti ini konsisten dari awal sampai akhir cerita, dan menjadi jejak paling andal untuk mengidentifikasi siapa yang bercerita.

Sudut pandang adalah posisi atau cara pengarang menyampaikan cerita, ditandai oleh kata ganti orang yang dipakai pelaku cerita.

Orang pertama: tokoh yang ikut hidup di dalam cerita

Pada sudut pandang orang pertama, narator adalah salah satu tokoh di dalam cerita. Pembaca melihat dunia lewat matanya, mendengar lewat telinganya, dan merasakan lewat hatinya. Itulah sebabnya cerita orang pertama terasa dekat dan intim, seolah-olah kamu berdiri di samping tokoh itu sendiri.

Konsekuensinya, kamu hanya tahu apa yang diketahui narator. Bila narator tidak hadir di sebuah adegan, peristiwa itu tidak bisa diceritakan secara langsung. Pikiran tokoh lain hanya bisa ditebak dari ucapan dan tindakan mereka, sama seperti di dunia nyata. Keterbatasan ini justru sering dipakai pengarang untuk membangun ketegangan.

Orang ketiga mahatahu vs pengamat

Sudut pandang orang ketiga punya dua ragam penting. Ragam pertama adalah mahatahu: narator tahu pikiran dan perasaan semua tokoh, bahkan yang tidak diucapkan. Ragam kedua adalah pengamat: narator hanya menggambarkan apa yang tampak dari luar, seperti kamera yang merekam tanpa pernah masuk ke kepala siapa pun.

Perbedaannya terasa kuat. Pada cuplikan Pak Tani tadi, narator tahu isi hati sang istri dan kekhawatiran Pak Tani โ€” itu mahatahu. Pada sudut pandang pengamat, narator hanya bisa menulis bahwa sang istri menghela napas atau Pak Tani menggeleng, tanpa pernah menjelaskan sebabnya. Pembaca harus menyimpulkan sendiri.

Konsekuensi pemilihan sudut pandang

Pilihan sudut pandang bukan soal rasa, melainkan keputusan strategis. Pengarang yang ingin pembaca merasakan kebingungan seorang detektif memilih orang pertama, sebab pembaca hanya tahu petunjuk yang juga diketahui detektif itu. Pengarang yang ingin memperlihatkan kerumitan keluarga besar cenderung memilih orang ketiga mahatahu agar bisa menyelami sudut hati banyak tokoh sekaligus.

Sebagai pembaca, mengetahui sudut pandang membantumu menyadari keterbatasan informasi. Kalau narator orang pertama, curigai setiap pernyataan: itu sudut pandang tokoh, bukan kebenaran mutlak. Kalau narator mahatahu, percayailah gambaran pikiran tokoh, tetapi tetap waspadai kemungkinan bias pengarang. Membaca dengan kesadaran ini membuatmu lebih kritis terhadap cerita yang kamu konsumsi.

Bayangkan kamera film. Orang pertama adalah kamera genggam yang dipegang tokoh utama, mengikuti matanya. Orang ketiga mahatahu adalah kamera yang bisa menembus dinding dan masuk ke kepala siapa pun. Orang ketiga pengamat adalah kamera di tiang, hanya merekam dari kejauhan tanpa pernah turut merasakan.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Baca cuplikan berikut, lalu tentukan sudut pandangnya.

Kami berangkat subuh-subuh, membawa bekal seadanya. Di tengah jalan, Budi menarik lenganku dan berbisik bahwa ia lupa membawa kompas. Aku hanya tersenyum dan berkata, kita tidak butuh kompas, kita butuh keberanian.

Cuplikan memakai kata โ€œKamiโ€, โ€œlengankuโ€, โ€œakuโ€, dan โ€œkitaโ€. Semuanya kata ganti orang pertama. Jadi narator termasuk tokoh yang ikut serta dalam peristiwa.

Narator hanya melaporkan apa yang dilihat dan dirasakannya sendiri (tersenyum, berbicara), bukan pikiran Budi yang dilaporkan lewat bisikan. Ini memperkuat bahwa narator adalah salah satu tokoh.

Karena kata ganti orang pertama dan narator adalah tokoh dalam cerita, sudut pandangnya adalah orang pertama (sebagai salah satu pelaku).

Jebakan: mengira semua cerita ber-kata ganti โ€œdiaโ€ atau nama tokoh pasti orang ketiga mahatahu. Yang benar: cek apakah narator menjelaskan isi pikiran tokoh. Bila hanya menggambarkan tindakan luar, itu orang ketiga pengamat, bukan mahatahu.

Jebakan: menilai cerita orang pertama sebagai laporan kebenaran objektif. Yang benar: narator orang pertama adalah tokoh dengan sudut pandang dan keterbatasannya sendiri. Bisa saja ia tidak jujur, lupa, atau keliru memahami situasi.

  • Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam membawakan cerita.
  • Kenali lewat kata ganti orang: aku/saya (pertama), ia/dia/mereka (ketiga).
  • Orang ketiga mahatahu tahu pikiran semua tokoh; pengamat hanya merekam luar.
  • Pilihan POV menentukan informasi yang bisa diakses pembaca.
  • Cerita orang pertama adalah sudut pandang tokoh, bukan kebenaran mutlak.