Membedakan Fakta dan Opini dalam Teks
Setelah ini kamu bisa membedakan pernyataan fakta yang dapat diverifikasi dari opini yang bersifat penilaian subjektif.
Sebuah iklan sabun menyebut “sabun ini mematikan 99 persen kuman” dan “sabun ini adalah yang terbaik untuk keluarga Anda”. Kalimat mana yang bisa kamu cek kebenarannya, dan mana yang sekadar ajakan? Di era penuh iklan, berita, dan unggahan media sosial, kemampuan membedakan keduanya membuat kamu tidak gampang tertipu. Coba lihat sendiri di bawah.
Fakta: dapat diverifikasi
Fakta adalah pernyataan yang kebenarannya bisa kamu cek lewat pengamatan, dokumen, atau data. Kalimat “Harga beras naik dua ribu rupiah per kilogram” adalah fakta karena kamu bisa pergi ke pasar atau membuka laporan harga untuk memastikannya. Hasilnya mungkin benar atau salah, tetapi cara memastikannya jelas dan tidak bergantung perasaanmu.
Ciri fakta yang perlu kamu hafal: memuat angka, tanggal, nama tempat, hasil penelitian, kejadian yang dapat disaksikan, atau pernyataan yang dapat dicek ulang. Kalimat fakta biasanya bersifat denotatif — kata-katanya dipakai dalam makna sebenarnya, bukan kiasan.
Fakta adalah pernyataan yang dapat diverifikasi kebenarannya melalui pengamatan, dokumen, atau data. Opini adalah pernyataan yang berisi penilaian, keyakinan, atau perasaan subjektif penulisnya.
Opini: berisi penilaian subjektif
Opini adalah pernyataan yang menyatakan sikap penulis: suka atau tidak suka, baik atau buruk, seharusnya atau tidak seharusnya. Kebenarannya tidak bisa kamu cek secara objektif karena bergantung pada nilai pribadi. “Berlibur ke pantai adalah cara terbaik melepas penat” adalah opini — orang lain boleh saja lebih suka naik gunung.
Ciri opini yang sering muncul: kata sifat penilaian (“terbaik”, “paling jenius”, “membosankan”), kata modalitas (“seharusnya”, “mungkin”, “nampaknya”), ungkapan perasaan (“sayang sekali”, “untunglah”), serta ajakan atau saran. Saat menulis teks argumentatif, kamu memadukan fakta dan opini; tetapi pembaca yang kritis harus tahu mana yang bisa dicek dan mana yang harus ia nilai sendiri.
Kalimat di teks editorial biasanya memadukan keduanya. Coba kamu bedakan pada contoh nyata berikut.
Uji sederhana: “bisakah saya cek ini?”
Cara tercepat membedakan fakta dan opini adalah bertanya pada diri sendiri: “Apakah saya bisa memverifikasi pernyataan ini dengan mencari data, menyaksikan langsung, atau membaca dokumen?” Bila ya, itu fakta. Bila jawabannya “tergantung orang” atau “itu pendapat”, itu opini. Uji ini bekerja bahkan ketika pernyataan itu ternyata salah — sebuah klaim yang dapat dicek namun keliru tetaplah fakta (yakni fakta yang salah), bukan opini.
Coba asah kepekaanmu. Pada teks berikut, kamu menyorot pernyataan yang termasuk klaim yang dapat diverifikasi — bukan penilaian atau saran. Latihan begini melatih kamu berhenti sejenak sebelum mempercayai sebuah ungkapan.
Menandai bahasa opini
Banyak opini terselubung di balik kata-kata tertentu. Coba kamu lengkapi kalimat berikut dengan kata yang tepat, dan perhatikan bagaimana pilihanmu mengubah kalimat menjadi penilaian.
Bayangkan fakta adalah foto dan opini adalah filter. Foto menunjukkan apa adanya; filter mengubah warna sesuai selera pembuatnya. Pembaca yang kritis melihat foto itu dulu, baru memutuskan apakah setuju dengan filter yang dipakai penulis.
Dalam soal Literasi Bahasa Indonesia UTBK dan TKA (kerangka Peraturan Ka. BSKAP 045/H/AN/2025), pertanyaan “mana yang termasuk fakta/opini” sangat sering muncul pada teks editorial, opini, dan iklan. Tipuan paling sering: pilihan yang mengandung angka tetapi disertai kata penilaian, sehingga terlihat seperti fakta padahal campuran. Cara bertahan: uji tiap bagiannya secara terpisah.
Coba dulu di kertas, baru buka.
Soal. Bacalah cuplikan teks iklan berikut, lalu pilah tiap kalimat menjadi fakta atau opini.
(1) Sepatu lari LariCepat dibuat dari bahan daur ulang. (2) Sepatu ini ringan hanya dua ratus gram. (3) Sepatu ini pasti akan membuat gaya lari kamu makin keren. (4) Atlet nasional Bima Pratama memakai sepatu ini pada kejuaraan 2025. (5) Dengan demikian, sepatu ini adalah pilihan paling tepat untuk pelari sungguhan.
Kalimat (1), (2), dan (4) memuat hal yang dapat dicek: bahan daur ulang, berat dua ratus gram, atlet nasional pada kejuaraan. Itu semua fakta.
Kalimat (3) memuat “pasti” dan “keren”, sedangkan kalimat (5) memuat “pilihan paling tepat”. Kata-kata itu menandakan penilaian subjektif, sehingga keduanya opini.
Cek ulang: kalimat (3) memang murni penilaian (tidak ada klaim dapat-dicek). Kalimat (5) pun murni penilaian, walau didahului “dengan demikian” yang menyiratkan simpulan. Keduanya tetap opini.
Jebakan: mengira kalimat yang memuat angka pasti fakta. Yang benar: angka bisa dipakai dalam janji atau penilaian, misalnya “pasti sepuluh kali lebih kuat” tetap opini.
Jebakan: menyangka opini selalu salah. Yang benar: opini bisa beralasan dan masuk akal; yang membedakannya adalah sifat subjektif, bukan kebenaran mutlaknya.
Jebakan: membiarkan kalimat campuran lolos sebagai fakta murni. Yang benar: bila sebuah kalimat memadukan klaim dapat-dicek dengan kata penilaian, ia campuran, dan perlu kamu pisahkan saat menilai argumen.
- Fakta dapat diverifikasi lewat pengamatan, dokumen, atau data.
- Opini berisi penilaian, keyakinan, atau perasaan subjektif penulis.
- Ciri opini: kata penilaian, modalitas, ungkapan perasaan, ajakan.
- Uji cepat: tanyakan “bisakah saya cek pernyataan ini secara objektif?”
- Kalimat campuran = fakta yang dibungkus penilaian; pisahkan bagiannya.