Kohesi & Koherensi: Lem yang Merangkai Paragraf
Setelah ini kamu bisa membedakan kohesi (alat formal) dari koherensi (alur makna), serta menyorot alat kohesi dalam paragraf dan menjelaskan mengapa penghapusannya meruntuhkan keterhubungan.
Coba baca paragraf ini: โHujan turun deras. Jalan-jalan tergenang. Banyak kendaraan mogok.โ Tiga kalimat itu bisa dibaca, tetapi hubungannya longgar โ pembaca harus menebak benang merahnya. Sekarang bandingkan: โHujan turun deras, sehingga jalan-jalan tergenang. Akibatnya, banyak kendaraan mogok.โ Satu kata penghubung mengubah segalanya. Itulah kekuatan kohesi. Coba lihat sendiri di bawah.
Dua pita: formal dan makna
Sebuah paragraf yang baik dirangkai oleh dua pita sekaligus. Pita formal (kohesi) menghubungkan kalimat-kalimat lewat tanda-tanda bahasa: konjungsi, kata ganti, elipsis. Pita makna (koherensi) menghubungkan gagasan lewat alur logis. Keduanya bekerja bersama, tetapi berbeda sifat.
Kohesi adalah keterhubungan formal antarbagian teks lewat alat bahasa: konjungsi, referensi (kata ganti), substitusi, dan elipsis. Koherensi adalah keterhubungan makna lewat alur logis yang membuat seluruh teks terasa menyatu.
Paragraf bisa kohesif tetapi tidak koheren (banyak konjungsi tetapi gagasan melompat), atau koheren tetapi tidak kohesif (gagasan runtut tetapi tanpa alat perangkai). Yang ideal adalah keduanya hadir bersama.
Referensi: kata ganti yang merujuk
Salah satu alat kohesi paling kuat adalah referensi โ kata ganti yang merujuk kembali ke unsur sebelumnya. Coba sorot referensi dalam paragraf ini.
Elipsis: kata hilang tetapi terpahami
Elipsis adalah penghilangan kata yang maknanya tetap bisa dipahami dari konteks. Alat ini membuat paragraf hemat tanpa kehilangan jelas. Coba sorot bagian yang mengandung elipsis.
Koherensi: alur logis
Sementara kohesi soal alat formal, koherensi soal alur makna. Paragraf yang koheren menyusun gagasan dalam urutan yang masuk akal: sebab ke akibat, umum ke khusus, atau kronologis. Coba identifikasi alur koherensi.
Bayangkan paragraf seperti kereta api. Kohesi adalah pengait antargerbong (konjungsi, kata ganti) โ tanpa pengait, gerbong lepas. Koherensi adalah rel yang menentukan arah (alur logis) โ tanpa rel, gerbong teracak ke mana-mana. Dua pita itu harus hadir bersama.
Di UTBK Pemahaman Bacaan & Menulis dan Literasi Bahasa Indonesia, soal kohesi dan koherensi sering menyodorkan paragraf dengan kalimat yang harus disusun ulang atau konjungsi yang harus dipilih. Kerangka TKA (Peraturan Ka. BSKAP 045/H/AN/2025) memasukkan โmenjelaskan hubungan makna antarkalimat-antarparagrafโ sebagai subkompetensi resmi. Tipuan paling sering: konjungsi yang tampak cocok tetapi melanggar alur logis. Cara bertahan: cek dulu alur makna, baru pilih konjungsi yang sesuai.
Coba dulu di kertas, baru buka.
Soal. Perbaiki paragraf berikut dengan menambahkan alat kohesi yang sesuai: โBanjir menerjang kampung itu. Banyak rumah terendam. Warga mengungsi ke balai desa.โ
Tiga kalimat itu terputus tanpa konjungsi atau kata ganti. Pembaca harus menebak hubungan sebab-akibatnya.
Alurnya adalah sebab-akibat-akibat berantai: banjir menyebabkan rumah terendam, yang menyebabkan warga mengungsi.
Hasil: โBanjir menerjang kampung itu, sehingga banyak rumah terendam. Akibatnya, warga mengungsi ke balai desa.โ Sekarang paragraf kohesif dan koheren.
Jebakan: menyamakan kohesi dengan koherensi. Yang benar: kohesi adalah pita formal (alat bahasa), koherensi adalah pita makna (alur logis); keduanya berbeda dan saling melengkapi.
Jebakan: mengira paragraf dengan banyak konjungsi otomatis kohesif dan koheren. Yang benar: konjungsi yang melanggar alur logis justru merusak koherensi; cek selalu kesesuaian antara konjungsi dan makna.
- Kohesi adalah keterhubungan formal lewat konjungsi, referensi (kata ganti), substitusi, dan elipsis.
- Koherensi adalah keterhubungan makna lewat alur logis (sebab-akibat, umum-khusus, kronologis).
- Paragraf ideal memiliki kedua pita sekaligus; kekurangan salah satu membuat teks rontok.
- Elipsis membuat paragraf hemat tanpa kehilangan jelas; kata yang dihilangkan harus terpahami dari konteks.
- Di soal ujian, cek dulu alur makna, baru pilih konjungsi yang sesuai โ jangan terjebak konjungsi yang tampak cocok.