Langsung ke isi
Lyra
Bahasa Indonesia · Kelas 11–12 · Fase F · 8 menit baca UTBK

Analogi Tingkat Lanjut: Relasi Abstrak & Bertingkat

Setelah ini kamu bisa menyelesaikan analogi dengan relasi abstrak seperti derajat intensitas, urutan sekuensial, dan kiasan metaforis.

Sebagian soal analogi tampak mudah: “panas : mendidih”. Tetapi soal sulit sering mengaburkan relasi — misalnya bila dua pasangan sama-sama masuk akal. Di sinilah banyak peserta tersesat. Soal analogi tingkat lanjut menguji apakah kamu bisa membedakan derajat, urutan, dan kiasan. Bagaimana cara menguasainya? Coba lihat sendiri di bawah.

Pasangkan kata di kiri dengan pasangan yang menunjukkan derajat intensitas yang sepadan.

Relasi derajat: kenaikan tingkat intensitas

Beberapa pasangan kata tidak sekadar sinonim atau antonim, melainkan menunjukkan derajat intensitas. “Dingin” dan “beku” sama-sama menyebut suhu rendah, tetapi “beku” lebih ekstrem. “Sedih” dan “hancur” sama menyatakan kesedihan, tetapi “hancur” jauh lebih dalam. Relasi derajat menuntut kamu menemukan pasangan yang menunjukkan kenaikan tingkat yang sepadan, bukan dua kata yang sekadar berdekatan makna.

Yang membuat relasi ini sulit: distraktor sering berbentuk sinonim biasa. Peserta yang terburu-buru memilih “sedih : bersedih” sebagai padanan “marah : murka” akan keliru, karena “sedih : bersedih” tidak menunjukkan kenaikan derajat. Cara bertahan: tanyakan apakah kata kedua memang lebih kuat dari kata pertama, dengan jarak yang sepadan.

Relasi derajat (intensitas) adalah hubungan dua kata yang menunjukkan tingkat yang berbeda dari sifat yang sama, biasanya kata kedua lebih kuat atau lebih ekstrem dari kata pertama.

Relasi sekuensial: urutan langkah

Relasi sekuensial menghubungkan dua kata sebagai dua tahap berurutan dalam sebuah proses. “Benih : pohon” menyatakan bahwa benih tumbuh menjadi pohon. “Larva : kupu-kupu” menyatakan urutan metamorfosis. Yang penting di sini: arah urutan harus konsisten antara A : B dan C : D. Bila A : B menyatakan “awal menjadi akhir”, maka C : D juga harus “awal menjadi akhir”.

Coba bedakan dua relasi yang sering tertukar ini. Pilah pasangan berikut menjadi sekuensial (urutan langkah) atau derajat (kenaikan intensitas).

Relasi metaforis: kiasan yang menjadi padanan

Relasi metaforis menghubungkan kata melalui makna kiasan. “Bulu : berat” menyatakan bahwa “bulu” mengkiaskan sesuatu yang sangat ringan. “Gunung : berat” mengkiaskan sesuatu yang sangat berat. Distraktor yang sering muncul: pasangan literal yang sebenarnya tidak sejajar secara kiasan. Coba pasangkan analogi metaforis berikut, dan perhatikan bahwa kata kedua menggambarkan ekstrem dari sifat kata pertama.

Bayangkan relasi derajat sebagai tangga: dua kata ada di anak tangga yang berbeda, satu lebih tinggi. Relasi sekuensial seperti rel kereta: dua kata adalah dua stasiun yang dilewati secara berurutan. Relasi metaforis adalah lukisan: kata benda dilukis untuk mewakili ekstrem suatu sifat.

Derajat positif dan negatif: arah naik-turun

Relasi derajat punya dua arah. Kadang pasangan menunjukkan kenaikan ke arah positif (“senang : gembira” — makin kuat ke arah positif). Kadang menunjukkan kenaikan ke arah negatif (“sedih : hancur” — makin dalam ke arah negatif). Pasangan yang sejajar harus berbagi arah yang sama. “Senang : gembira” tidak sejajar dengan “marah : murka” karena satu naik ke positif, satu naik ke negatif.

Coba pasangkan pasangan berikut dengan memperhatikan arah derajat.

Berlatih soal sulit campuran

Soal tingkat lanjut sering mencampur berbagai relasi abstrak dalam satu paket. Kemampuan untuk cepat menamai relasi — derajat, sekuensial, atau metaforis — menjadi modal utama. Pilah pasangan berikut ke jenis relasinya. Beberapa sengaja dibuat dengan distraktor yang menyesatkan.

Dalam soal Literasi Bahasa Indonesia UTBK (framework snpmb.id/fr), analogi tingkat lanjut kerap muncul dengan dua pasangan valid yang tampak sama-sama benar. Strategi pemecah: bandingkan arah relasi (naik/turun, awal/akhir) dan jenisnya (derajat vs sekuensial). Tipuan paling sering: pasangan sinonim biasa yang disamarkan sebagai derajat. Cara bertahan: tanyakan apakah kata kedua memang lebih ekstrem, dan apakah arahnya sama dengan A : B.

Coba dulu di kertas, baru buka.

Soal. Lengkapilah analogi berikut: “sedih : hancur = marah : ?” Sertakan jenis relasi dan arahnya.

“Sedih : hancur” menyatakan kenaikan derajat ke arah negatif — hancur jauh lebih dalam dari sedih.

Pasangan yang harus dicari adalah derajat ke arah negatif, dengan kata kedua lebih ekstrem. Untuk “marah”, kata yang lebih ekstrem adalah “murka”.

“Marah : murka” juga naik ke arah negatif, sama seperti “sedih : hancur”. Jawaban: sedih : hancur = marah : murka. Jenis relasi derajat (intensitas), arah negatif.

Jebakan: memilih pasangan sinonim biasa sebagai padanan derajat. Yang benar: relasi derajat menuntut kata kedua lebih ekstrem dari kata pertama.

Jebakan: membalik arah derajat positif dan negatif. Yang benar: pasangan sejajar harus berbagi arah yang sama (keduanya positif atau keduaanya negatif).

Jebakan: menganggap relasi sekuensial sama dengan derajat. Yang benar: sekuensial adalah urutan tahap, sedangkan derajat adalah kenaikan intensitas sifat yang sama.

  • Relasi derajat menyatakan kenaikan tingkat intensitas sifat yang sama.
  • Relasi sekuensial menghubungkan dua tahap berurutan dalam sebuah proses.
  • Relasi metaforis menghubungkan kata benda dengan ekstrem sifat yang dikiasnya.
  • Derajat punya dua arah: positif (senang : gembira) dan negatif (sedih : hancur).
  • Pasangan sejajar harus berbagi jenis relasi dan arah yang sama.